Sangihe part 1- Diving pulau terluar



Pulau terluar itu kedengarannya eksotis, misterius dan membangkitkan rasa penasaran, dan biasanya nggak akan jauh-jauh dari membayangkan pulau kosong dengan penjagaan ekstra ketat dari para marinir yang baru bisa pulang beberapa bulan sekali.
Berjarak 6 sampai 7 jam menggunakan kapal cepat dari Manado ke arah utara, kita akan menjumpai kepulauan Sangir atau Sangihe. Lautnya berbatasan langsung dengan Filipina. Selain kapal cepat bisa juga sih menggunakan pesawat, tapi hanya beberapa kali dalam seminggu, yang mendarat di Naha.
Karena lokasinya yang sangat dekat dengan Filipina, maka terdapat banyak sekali toko-toko yang menjual barang dari Negara itu. Hari pertama saya langsung menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satunya, dan langsung jatuh cinta setengah mati pada… jas hujan berwarna kuning!!! Entah karena embel-embel toko Filipina atau yang lain, tapi rasanya jas hujan itu modelnya lucu dan dan bahannya beda, benda yang membuat saya teringat terus sampai akhir masa kunjungan ke Sangihe.
Jauh-jauh kesini, tujuan utamanya adalah melihat potensi bawah laut dari kepulauan Sangihe. Om Andy, Audita dan Sammy yang jauh2 datang dari Bali, Pinneng uw photographer Divemag dan saya yang nyempil, bakalan survey potensi underwater di kepulauan ini. Maka hari berikutnya tanpa membuang waktu kami melakukan ekspedisi. Mengarah ke selatan kami mengunjungi beberapa spot di daerah Dakupang dan Batunderang. Walaupun kami tidak bertemu dengan coral garden yang padat, tapi cukup banyak yang dijumpai saat itu. Batfish, sweetlips, bumphead mudah ditemui pada setiap penyelaman.
Karena ini merupakan ekspedisi, maka kami menyelam dibagi dalam dua tim. Tidak membuang waktu untuk surface interval, begitu tim yang satu naik, maka tim yang lain langsung bersiap turun. Walhasil satu hari itu bisa menjajal sampai 5 titik diving. Wuih berasa marathon…
Meskipun cape, masih ada hal menggoda lain yang ingin dilakukan begitu hari semakin sore. Kami sengaja menuju lokasi yang oleh orang-orang lokal disebut dengan ‘Puncak’ , dan dari sana pemandangan yang terbuka kea rah lautan dan dermaga yang berada di dalam teluk benar-benar bisa membuat kita bersyukur tanpa sadar. Saya sempat mengcapturenya, jadi biarlah foto yang berbicara hehehe..

Teluk Tahuna dari Puncak
Selain pemandangannya, Puncak juga menyediakan pisang goreng plus sambal. Ini nih yang bahaya dan akibatnya masih saya rasakan sampai saat ini. Karena sambal itu membangkitkan rasa penasaran, pisang goreng yang dilahap tidak mungkin cukup satu atau dua kan? Apalagi dimakan saat udara dingin dan ditemani secangkir kopi hangat, wah bisa lupa segalanya.

Jajanan kue-kue pasar yang mirip dengan kue-kue Manado

Mi ce

Kalau bicara soal makanan, mirip-mirip Manado yang berlimpah makanan enak, naaahh di Sangihe juga sama.  Kue-kue nya bisa dibilang hasil adopsi dari Manado, ada juga sagu yang diisi gula merah. Dimakan sewaktu masih panas… wuiiihhh!! Selain makanan kecilnya, ada juga mi khas Sangihe yang resepnya diturunkan dari generasi ke generasi, namanya Mi Ce. Mi ini tidak halal karena mengunakan daging babi. Porsinya pun terbagi atas satu dan setengah, yang membuat saya menyesal sudah memesan porsi satu. Banyaknya nggak tanggung-tanggung. Asal nama Mi Ce adalah Mi Cina, karena memang resepnya dipegang oleh keluarga Cina Sangihe.
Besoknya kami melanjutkan ekspedisi kembali, tapi kali ini kami akan mengunjungi kapal karam yang hanya berjarak 10 meter dari dermaga Tahuna. Kapal tersebut karam sejak jaman penjajahan Jepang, kurang lebih tahun 1943. Meskipun lokasi berbaringnya kapal karam hanya sekitar 14 meter dari permukaan, tapi karena keruh kami tidak bisa melihatnya dari permukaan. Setelah didekati, kalau saya sih jangan kira karena jago navigasi, cukup menguntit diver depan yang pastinya udah tau dengan pasti posisinya, dan terlihatlah bagaikan bongkahan batu super besar membayang hitam di depan.
Kapal cargo yang namanya masih belum diketahui ini masih dalam kondisi utuh, tidak terbelah serta posisinya berdiri stabil. Seluruh permukaannya tertutup sempurna oleh coral yang tumbuh subur, sehingga tidak menyisakan sejengkalpun ruang di permukaannya. Wreck ini sudah menjadi rumah bagi beragam biota laut yang berbahagia. Saya sempat melihat blue spotted sting ray ngumpet di bagian bawah, bersebelahan dengan rumah beberapa mantis. Dasar wreck mencapai kedalaman 22 meter pada saat air pasang.
Bagi penggemar hewan-hewan macro pun disini dapat dipastikan mempunyai potensi macro yang besar. Sempet ditarik masuk kedalam oleh Pinneng, berusaha bergerak semimim mungkin agar tidak menghamburkan lumpur yang menjadi dasar wreck tersebut. Tapi semakin masuk, rasanya imajinasi semakin ngaco aja. Kok saya jadi membayangkan akan diserbu bajak laut? Jadilah saya balik menarik Pinneng keluar hahahaha…

Bersambung

10 Replies to “Sangihe part 1- Diving pulau terluar”

  1. Nice share Al, greget pisan!!!
    Saya pernah mencoba beberapa spot disana, wreck ini yang luput karena jadwal flite esok harinya.
    Gara garanya nyasar nyari spot di pantai Karulung, tergiur potret nadine di brosur Pariwisata Pemda sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *