Pulau Air Dingin

Sunset di depan hotel
Kopi hangat setelah diving.. muantep
Surfing di shipwreck, diambil dari go pro di papan saya
mola mola yang tetap anteng di antara diver
Mola mola atau sunfish
Suasana di hotel kami

Surfing dan Diving.
Mana bisa kutahan cengiranku dengan adanya dua kegiatan ini di pulau yang selalu dikelilingi air nan dingin ini. Pulau mana pula yang selalu dingin airnya? Berjarak hanya 40 menit menggunakan kapal cepat dari Sanur, Bali, sampailah kita di Lembongan, pulau yang menghasilkan surfer surfer professional karena ombaknya yang beragam.
Yah, saya nggak bercanda kalau saya bilang airnya memang dingin banget, apalagi di bulan bulan pertengahan tahun, saat Australia dilanda musim dingin, Posisi yang lebih timur dari Bali ini menjamin perairan yang lebih terekspose menghadap Australia. Maka dari itu segala macam persiapan termasuk wetsuit 1mm sudah saya bawa juga, disamping juga surfboard.
Sedikit hal lucu tapi mengesalkan karena saking seringnya terjadi, ketika akan membeli tiket, tiba tiba saya dikasih harga turis asing… Teman teman ketawa sambil membela saya yang casing nya aja luar, tapi daleman lokal abis ini, sementara saya hanya diem cemberut, malas membela diri, lha wong tinggal nunjukin KTP aja kalo si penjual tiketnya tetap nggak percaya. Ya, dari Sanur kami mengambil jurusan Jungut Batu, dengan harga tiket 50 ribu rupiah ( inget, harga lokal ).
Mendekati bibir pantai kami disambut hamparan laut jernih yang berwarna hijau toska gradasi kebiruan yang menyatu dengan pasir putih. Disepanjang pesisirnya berderet deret perahu kecil yang belakangan saya ketahui sebagai taksi laut. Hebat, yang biasanya tau angkot aja disini malah ada taksi laut segala. Kami dijemput oleh salah satu taksi laut tersebut yang akan mengantar ke hotel yang telah kami pesan sebelumnya. Ternyata tiap hotel punya taksinya sendiri sendiri untuk menjemput dan mengantar tamunya ke dermaga. Nice..
Hotel hotel yang berderet di sepanjang pantai dengan posisi bar dimuka, memanjakan para tamu yang terlihat seluruhnya turis asing itu, saat sarapan setelah matahari terbit ataupun beer time di sore hari dengan pemandangan sunset nan indah. Hotelnya sendiri berkisar antara 250-300 ribuan dan bisa di isi sampai 3 orang, tapi untuk makanan rasanya sulit untuk mencari harga warung, karena kita harus berjalan ke kampung yang terletak di belakang deretan hotel tersebut, yang pastinya malas untuk dilakukan setelah berkegiatan di laut sementara restoran fancy tepapar di depan mata di hotel masing masing.
Singkat cerita, setelah menaruh barang dan menyiapkan papan surfing, saya siap menjajal point terdekat yang ada di depan hotel, Shipwreck. Saat itu swell nggak terlalu besar, sehingga Shipwreck hanya 2-3 feet fun. Dekat ini artinya harus paddle out sekitar 10 menit melewati budi daya rumput laut yang memang tersebar di sepanjang garis pantainya dan sudah menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat disini.
Pilihannya ada dua, just paddle atau diantar taxi laut dan membayar 20 ribu aja. Sesampainya di point, wooooww.. sudah banyak surfer lain yang nongkrong, mayoritas surfer luar dan beberapa lokal setempat. Hemm.. pe er juga nih cari ombaknya, apalagi saya termasuk surfer Jawa barat yang sudah dimanja ombak ombak Jawa Barat yang sepi dan bagus.Tapi dengan teknik kedipan maut akhirnya bisa juga saya mendapat beberapa ombak yang bagus.
Memang dasar orang tropis, sudah pakai wetsuit pun saya masih menggigil kedinginan, serasa surfing di air kulkas, sementara para bule itu masih pake rashguard ( jauh lebih tipis dari wetsuit) dan nampaknya tenang tenang aja tuh..
Besoknya giliran diving. Target hari ini, bertemu Mola mola atau disebut juga Sunfish. Mola mola ini merupakan ikan purba air dalam yang biasanya bercokol di kedalaman 200-100 m, dan hanya sekali sekali saja di waktu waktu tertentu naik mendekati permukaan di beberapa titik di dunia, salah satu titiknya adalah Crystal Bay di Lembongan ini. Maksudnya mendekat permukaan disini adalah kedalaman 40 meter ya.. bukan 4 meter.
Saya yang masih open water ini pun deg degan banget, maklum maksimal kedalaman saya untuk diving paling 24 meter, dan saya bukan jenis wanita senekad itu. Apalagi ternyata di kedalaman 20 meter suhu air mencapai 17 derajat celcius!!!! Saya menggigil sejadi jadinya sembari ngomel dalam hati kenapa si Mola mola harus demen air dingin begini. Saya pun nggak kuat lagi menahan dingin dan memberikan kode pada buddy saya untuk segera naik ke permukaan. Tapi dia malah membalas dengan kode Mola mola, seperti kode menelepon, mengacungkan ibu jari dan kelingking. Hah!!! Yang benar?? How lucky we are… dan benar saja, di kejauhan saya melihat ikan purba tersebut diantara diver lain, ukurannya sebesar saya sendiri dan bentuknya yang aneh menyerupai pesawat luar angkasa pipih melayang perlahan mendekati kami.
Tuhan Maha Besar.. saya bertemu Mola mola di kedalaman 20 meter, yang perlahan naik ke 14 meter!!!! Dan dia hanya berjarak satu lengan saya saja, bahkan hampir mencium teman saya yang memegang kamera.. Saya hanya bisa terpaku, lupa sama sekali dengan rasa dingin, dan begitu dia lewat kami pun langsung mengekspresikan suka cita yang amat sangat, saling bersalaman dan mengacungkan tinju di air.. yah mau gimana lagi, nggak mungkin teriak teriak dengan regulator di mulut toh?
Semua orang mengakui… kami beruntung hari itu.
Besoknya, jangan khawatir, kami masih diving tapi kali ini untuk melihat gua dalam air. Aduh, apapula ini..Β  Saya lebih mempersiapkan diri, menggunakan 2 wetsuit 3 mm, yang berarti saya pakai 6mm! Masih di Crystal Bay, ada gua yang sangat mudah dijangkau bahkan untuk penyelam pemula sekalipun ( seperti saya ), hanya perlu kebawah sedalam 14 meter, dan berenang masuk sejauh 19 meter. Tetap saja saya dag dig dug dueer. Bahkan sempat menciptakan kode baru untuk deg degan yang akhirnya jadi bahan ledekan. Tapi memang nggak salah lagi, seperti di film film, begitu kami muncul ke permukaan di dalam gua menyerupai kubah tersebut, ternyata ada cahaya matahari yang bisa menerobos masuk, serta berpenghuni pula.. ribuan kelelawar yang nangkring dengan manisnya di atap gua. Memang indah, saya nggak nyesal untuk mencoba masuk.
Tapi dibalik semua keindahan alamnya, sebenarnya terdapat satu bentuk ketidak adilan, seperti biasa.. orang lokal lah yang mengalami itu. Ya, hasil berbincang bincang dengan salah seorang petani rumput laut mengungkapkan, mereka tidak mendapatkan hasil yang sepadan dengan jerih payah selama menanam, memanen rumput laut, harga yang sangat murah untuk per kilo nya dirasa sangat kurang. Tidak ada standar harga. Dan pekerjaan ini sudah dilakukan secara turun temurun, padahal hasilnya banyak yang di eksport. Ironis, sementara di halaman rumahnya berseliweran turis turis menenteng papan surfing atau tabung oksigen untuk diving, kesejahteraan mereka tetap berjalan di tempat.

17 Replies to “Pulau Air Dingin”

  1. eksotis banget ya kegiatan km, tiap hari ada di dunia baru..
    beruntung banget bisa ketemu banyak warna.. ALIVE lagi, kalo aku di sini cuman negbayangin .. aja sambil nonton … itupun gk live ! can't touch de feeling… can smell the essence, just ….. I got no time ..

  2. Wahhh nice mba sufing and diving nya.. saya malah baru mau belajar diving. biasanya cuma snorkeling aja. oiya kapan” surfing bareng seru kayanya. udah lumayan lama nih ga surfing lagi. πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *