Phuket tanpa Bangla :)



Sangat berbeda dari tahun lalu, perjalanan ke Phuket kali ini, selain untuk kompetisi juga untuk syuting Trekker, yang berarti saya  bakal jalan jalan juga selain manteng di tempat kontes horeee….!!!

Barengan juga sama Mencos a.k.a Arip Nur Hidayat yang jadi juara umum Longboard di Asia Tenggara, kami semua sempet transit di Singapore selama 6 jam. Aduh, hampir mati akal mau ngapain aja selama itu, akhirnya kami beli tiket MRT dan pilah-pilih tujuan, pastinya yang banyak makanan dooong.
Jeng jeng, jadilah kita naik MRT, seneng deh liat Mencos bersemangat karena ini pertama kali dia naik MRT. Seru liat proses dan jalan hidup dia yang bisa kemana mana karena surfing.  Dan setelah sampai di tujuan, saya bersemangat sekali celingak-celinguk cari tempat makan yang asik khas India or Cina, tapi kok… loh kok pada menuju ke McD? Ah masa jauh jauh dari bandara mau mampir McD? Ehhhh.. ternyata beneran masuk McD, habis cerita -_____-*
Perjalanan diteruskan setelah sukses ‘buang waktu’ ke McD.. dan sesampainya di Phuket, kami langsung dijemput, dengan bawaan seabreg ( pastinya lah dengan papan papan longboard Mencos yang segede perahu itu ). Akhirnya bisa istirahat juga. Eits, ntar dulu.. masih ada acara salah masuk hotel.. dan geret geret bawaan pindah hotel sebelah, yang walaupun dekat buat tangan melar juga nenteng-nenteng papan surfing.


Hari pertama setelah mencoba sebentar ombak Phatong, dimana kompetisi akan diadakan, kami mnelakukan tour ke beberapa tempat wisata seperti Phuket Cobra Show yang mengadakan pertunjukan bermain main dengan ular. Hiiiii.. ternyata geli juga pertama kali melihat mereka dari jakrak sedekat itu. Tapi yang menarik dari hasil wawancara saya dengan sang pawang adalah mereka tidak pernah melatih ular-ular tersebut, tapi hanya bereaksi sesuai gerakan si ular, atau memanipulasi perhatian ular tersebut dengan gerakan-gerakan tertentu. Cobra, King Cobra dan Coconut Snake menjadi tontonan hari itu.


Kami beranjak ke tempat yang kedua, yaitu Chalong Temple, atau disebut juga Chai Tararam Temple, yang dibangun untung memperingati biksu Luang Pho Cham yang memimpin rakyat Phuket melawan imigran Cina yang berinvasi ke Phuket untuk mengambil alih penambangan yang ada pada tahun 1876. Sedikit pusing melihat detil bangunan, semua berwarna emas dan merah dengan ukiran yang super ribet di semua bagiannya.


Hari berikutnya saya berkesempatan untuk mencoba langsung belajar Thai boxing atau Muay Thai di Rawai, wuih rasanya seperti jagoan yang berguru ke negri asal beladirinya hahahahaha… Semua berlatih penuh semangat, dari berbagai Negara.. malah nggak nyangka ketemu dengan 3 orang Indonesia yang sedang berlatih disana. Salah satunya sudah terjun secara professional dan malam itu akan bertanding melawan para bule di Stadion Bangla.
Menarik melihat anak-anak sejak kecil berlatih, mereka terikat system kontrak. Berlatih setiap hari sepulang sekolah, makanan diatur gizinya, dan suatu saat mereka akan bertarung di Bangkok.
Kali ini biarlah foto-foto yang lebih banyak bercerita, karena apa yang sudah saya alami di Phuket saat itu, malah membuat saya semakin kangen untuk pulang ke Indonesia, menikmati ombak dan alamnya 😉

saya dan Stephanie Gilmore, 5 kali world champ!!

old town Phuket

mango sticky rice, enak looooh

2 Replies to “Phuket tanpa Bangla :)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *