Patroli Gajah Tangkahan

Beberapa jenis binatang biasa diperbantukan untuk manusia, terutama dalam hal penjagaan. Sebutlah, jenis tertentu dari anjing, atau kuda untuk pasukan kavaleri. Namun Gajah masih terbilang langka sebagai asisten manusia terutama saat ini.

Kali ini kami mengunjungi suatu lokasi yang terkenal dengan partoli gajahnya, tepatnya di Tangkahan, kawasan konsevasi Gunung Leuser, Sumatra Utara. Dari Jakarta kami terbang menuju Medan selama kurang lebih 2,5 jam. Setelah beristirahat sejenak dan bertemu dengan pemandu kami, perjalanan dilanjutkan ke Bukit Lawang, 3 jam perjalanan dari Medan kalau tidak terjebak macet. Sayangnya angka 3 jam itu lebih sering membengkak lantaran lalu lintas di Medan yang mulai bersaing dengan Jakarta.

Menjelang malam kami tiba di Bukit Lawang. Tidak sulit mencari penginapan di tempat yang ternyata merupakan tujuan wisata di kala akhir minggu bagi warga Medan ini. Harga penginapan sangat bervariasi sesuai fasilitas yang ditawarkan. Antara 100rb – 250rb. Dan beberapa penginapan menyediakan restaurant bagi tamu-tamunya. Kelelahan karena perjalanan yang nonstop, ditambah suhu udara yang sejuk membuat kami tidak berlama lama menahan kantuk dan langsung istirahat begitu mendapatkan kamar masing masing.
Keesokan paginya, kami memutuskan tidak langsung untuk lanjut ke Tangkahan tapi mencoba dulu rafting di sungai Wompu. Dari Bukit Lawang ke Sungai Wompu berjarak sekitar 2 jam perjalanan. Untuk mencapai lokasi rafting, mobil yang wajib digunakan adalah four wheel drive. Sebenarnya jarak tempuh tidak terlalu jauh, hanya medan jalannya lah yang memakan waktu demikian lama.

Bayangkan, setelah lepas dari jalan aspal kami menempuh jalan tanah diantara perkebunan kelapa Sawit. Mobil terguncang kesana kemari, dan ternyata ini bukan bagian yang paling parah. Tidak lama, jalam tanah berubah menjadi jalanan berlumpur. Dan barulah saya mengerti, mengapa rafting tidak terlalu popular dikalangan warga Medan. Terlalu banyak yang harus dilalui sebelum bisa menikmati arus sungai Wompu.

Sungai Wompu berlevel 3 dan berjarak tempuh 3 jam untuk sampai ke stop pertama. Jeram-jeramnya besar dan banyak area tenang setelahnya sehingga tidak terlalu melelahkan. Menyenangkan rasanya menghirup udara segar di pegunungan, dan merasakan sejuknya air sungai yang terpercik. Siang hari menjelang sore akhirnya kami kembali ke Bukit Lawang.
Persiapan ke Tangkaha dimulai saat kami selesai membersihkan diri di Bukit Lawang. Kami menyiapkan tas untuk keperluan sehari saja, karena lebih praktis untuk membawa barang barang yang diperlukan saja selama menginap disana.

Dengan mobil yang sama kamipun berangkat. Perjalanan ke Tangkahan sekitar 3 jam. Tadinya saya berharap kondisi jalan akan lebih baik dari kondisi jalan ke Sungai Wompu. Ternyata saya terlalu cepat berharap. Lepas dari jalan aspal berbatu yang hanya bisa kami nikmati sekitar30 menit, ketahanan kami langsung diuji dengan jalan berlumpur diantara kebun Sawit yang seakan tak ada habisnya.

Behubung kami berangkat di sore hari, maka malam turun disaat kami masih berjuang di tengah jalan. Keadaan sangat gelap. Terbanting banting selama 3 jam benar benar menguras tenaga dan mental. Dan ketika akhirnya kami sampai di tujuan, ternyata tidak terdapat fasilitas seperti yang diharapkan. Hanya ada satu atau dua tempat menginap seadanya dengan harga 60 ribuan semalam, kamar mandi luar plus menimba sendiri. Tapi untunglah rasa lelah dibadan membantu cepatnya kami terlelap tanpa banyak pertimbangan.

Paginya, di tempat menginap kami harus membayar retribusi untuk memasuki kawasan konservasi. Setelah itu barulah kami dapat meneruskan perjalanan kedalam. Tidak lama saya sudah bisa melihat para Gajah itu sedang menikmati sarapan paginya di kebun kebun. Mereka terlindung dalam kawasan khusus yang dipagari kawat.

Setelah menjemput 2 ekor gajah dan pawangnya, dimulailah petualangan kami. Menunggang Gajah memberikan sensasi yang aneh, seperti kau hidup dimasa lalu, dimana putri putri India bertamasya dengan mengendarai Gajah. Ternyata asal mula penangkaran Gajah ini dari 2 ekor Gajah Thailand yang terus dikembang biakkan sehingga mencapai 14 ekor saat ini. Dan mereka terlatih dengan baik untuk melakukan patroli berkala hutan di kawasan konservasi untuk menghindari penebangan dan perburuan liar.

Mengendalikan Gajah susah susah gampang. Kuncinya ternyata dari gerakan kaki kita di belakang telinganya. Kalau yang di gerakkan kaki kiri maka ia berbelok kea rah kiri, dan sebaliknya. Untuk menyuruhnya berjalan, cukup dengan menggerakkan kedua kaki.
Kami harus menyebrangi sungai yang berarus untuk memasuki hutan. Dengan Gajah sebagai tunggangan, rasanya sangat kokoh seperti kapal tongkang. Begitu juga saat memasuki hutan, walaupun para Gajah itu telah membuat jalur sendiri, tetap saja rasanya seperti mengendarai traktor, tidak ada yang bisa menghalangi.

Begitulah, walaupun perjalanan yang dilakukan sangat jauh dan melelahkan tetapi pengalaman yang didapat juga tidak bisa dibandingkan dengna yang lain. Apalai jika seusai mengendarai Gajah, ditutup dengan sesi memandikan Gajah. Selamat terkena siraman!!

One Reply to “Patroli Gajah Tangkahan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *