Pacitan trip

saya suka foto ini 🙂 nyolong dr fb nya Salini..

part 2

Rupanya memang suasana di Pacitan ini membuat saya ingin kembali dan kembali lagi. Buktinya saat menjelang tahun baru dan setelahnya ini saya memilih Pacitan sebagai tempat untuk melewatkan akhir tahun. Tenang, damai dan ombak setiap hari… what else can be better?

Kalau sebelumnya saat tengah tahun kami berpesta pora dengan ombak Pancer, point yang biasanya ‘on’ saat musim kering, kini kamu mengincar point Srau, yang katanya lebih serius sedikit, dengan pantai yang indah. Hmmm.. sensasi yang berbeda pastinya.

Pada hari-hari awal kami di sana, swell memang belum masuk, hanya sekitar 3-4 ft. Tapi justru swell kecil ini yang ternyata cocok dengan beachbreak yang ada di depan homestay. Nama beachbreaknya? Err, sebut saja Harry’s point, secara letaknya berada di depan homestay kepunyaan pak Harry.

Setelah sarapan yang dilakukan bersama-sama dengan para penghuni homestay lainnya, yang semuanya merupakan turis luar, tidak ada kata menunggu lagi untuk langsung nyebur. Acara masak-memasak itu sendiri pun seru. Semua tamu membuat makanannya sendiri. Baru sekali ini saya melihat konsep homestay yang demikian mandiri. Kadang kita bisa curi-curi menu dari tamu lain, melihat langsung pembuatan makanan ala luar negreeehh… pastinya nggak pake ulek-mengulek yaaah.

Biasanya rasa malas timbul karena point surfing yang terlalu rame, ini malah kebalikannya. Saya bisa merasa malas surfing karena tidak ada teman surfing!!! Amazing. Obak sekelas Halfway di Kuta, Bali, tapi yang main hanya saya dan Andryz, kadang ada tambahan beberapa orang tamu. Yang ada bolak balik paddle ambil ombak sampai pegal. Sayang sekali saya hanya bawa thruster 5’7” dan 6’0”, tidak kepikiran sama sekali untuk membawa funboard. Memikirkan dengan rindu pada biscuit 5’6” dan pod dengan ukuran yang sama. Pasti teman-teman surfer di Bali yang baca ini jadi super sirik hihihihi…

beachbreak bagus dan kosong..


Swell mulai datang..

Point Srau membutuhkan swell yang lebih besar. Letaknya sekitar 30-40 menit dari Teleng ria, arah yang sama dengan Watu Karung. Watu Karung merupakan magnet bagi Pacitan. Point inilah yang di ekspose habis-habisan di media. Tapi jangan tanya kenapa saya nggak main disana. Bagus sih bagus, cuma sangarnya juga nggak ada duanya. Mang Kelly ( panggilan sayang saya terhadap Kelly Slater yang 11 kali juara dunia) aja bisa baret-baret punggungnya gara-gara kegulungparah disana. Sayang sekali tidak bisa hadir untuk menghibur dia #mimpisiangbolong 😀

Pertama kali mencoba ombak Srau, saya cukup bingung dengan breaknya yang sangat dekat dengan  pantai. Bukan berarti kalau ombak pecah dekat pantai berarti enak ya.. masalahnya kan shorebreak ( ombak pecah di bibir pantai secara bersamaan, dan biasanya keras ) harus cepat dihindari dengan pull out dari ombak di saat yang tepat. Mana sempat gaya-gayaan doong..

Belum lagi jernihnya bukan main, memperlihatkan dengan jelas apa yang ada di bawahnya, karang-karang sehat yang siap menorah oleh-oleh pada surfer yang sial. Srau left, atau yang disebut juga dengan point ‘belakang portal’ karena letaknya yang pas di portal masuk area wisata, adalah point andalan di area Srau, karena saingannya ‘Pancingan’ cukup bermasalah untuk dipakai para surfer.

pic. by Pak Wid

pic. by Pak Wid

Salini, the surfer girl 🙂 pic. by Pak Wid
Salini, saya dan Novi dr Bandung




Pancingan yang mendapatkan namanya karena disana merupakan spot favorit juga bagi para pemancing local, mempunyai bentuk ombak kanan yang sempurna, dan bahkan mempunyai barrel juga. Saya sempat mencobanya sekali bersama Salini, surfergirl local Pacitan yang cantik dan berbakat ( hei.. she’s still 14 guys J) dan saat itu terjadilah adu mulut antara pemancing dan Salini.

Rupanya mereka tidak menyukai keberadaan surfer. Menurut mereka, surfer menghalangi ikan-ikan yang hendak memangsa umpan mereka. Hmmmm.. sepertinya mereka belum pernah mencoba tehnik popping, dimana ikan memang tertarik pada sesuatu yang bergerak. Adu mulut antara bapak-bapak pemancing dan suara anak-anak Salini benar-benar memperlihatkan kondisi sulit yang dialami. Bahkan setelah itu terjadi lagi bentrokan yang melibatkan parang dan senjata tajam lainnya. Oh well… sudah waktunya dilakukan sesuatu yang menyenangkan kedua belah pihak.

Pacitan nggak sendirian mengalami masalah seperti ini. Pengalaman yang sama saya rasakan ketika diving di Lembeh. Para nelayan juga melarang diver untuk diving di perairan depan kampungnya, dengan alasan mereka tidak bisa tarik jarring. Penyelesaian dengan musyawarah pun tercapai pada akhrinya, dengan win-win solution. Sebaiknya memang semua dibicarakan baik-baik.

Ok, kita kembali ke Srau left atau belakang portal tadi. Ombak inipun tidak semudah yang saya duga. Take off cepat benar-benar merupakan kunci kesuksesan. Kiri pula… Emang kenapa ombak kiri? Saya adalah regular footer, dimana kalau ombak kiri berarti saya harus membelakangi ombak dan harus menoleh serta memutar bahu menghadap ombak. Usaha ekstra.

Beberapa hari pertama saya merasa seperti baru belajar surfing, Wipe out atau telat take off dan berjalan di buih menjadi langganan. Rupanya memang harus lebih sering main di ombak kiri. Pada hari ke-3 barulah rasanya lumayan bisa menguasai ombak Srau left ini, dan melakukan sedikit maneuver. Lumayanlah.. demi foto #narsismodeON

Jadi inget pendapat salah satu teman saya yang juga regular, kalau dia surfng di ombak kiri rasanya seperti bukan surfing, tapi cuma sekedar ada polisi tidur saja hahaha.. Kenikmatan dan kepuasan saat surfing di ombak kiri tidak bisa dibandingkan dengn ombak kanan. Padahal harusnya tidak begitu. Ini karena saya lulusan Batrukaras Institute, yang sepanjang tahun ombaknya kanan terus, jadilah perlu penyesuaian lagi untuk ombak kiri.

to be continue…

5 Replies to “Pacitan trip”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *