Ombak Negri Sebrang

pose di gerbang depan istana raja Terengganu w/ Jeremy

Hutan neon 😀

berbagai macam nasi, ga ada yg ga enak

saya nyerah disini 😀 too much!

jus jagung

sate ikan

nasi grabu, warnanya menarik 🙂

ini yang buat temen2 hadir mulu di restoran cina

saat ombak lagi lucu2nya

saat ombaknya mulai sok lucu

Ferisha (mly)-Aynn (mly)-me-Ivy (Taiwan)

pemandangan dari balkon hotel

kapan lagi sampe bandara dikalungin bunga?

Travel budget!! Yak satu lagi keuntungan surfer, dibayar untuk melancong dan mencoba bermacam macam ombak, walaupun kali inipun dalam rangka kompetisi seri ASC ( Asian Surfing Champ ) tapi tak mengapa laah, mana mungkin ditolak.

Seperti biasa, saya harus berangkat sendiri dari Jakarta, sementara tim yang lain berangkat dari Bali, resiko anomali domisili bagi seorang surfer. Berangkat sendiri apalagi diharuskan pindah terminal saat transit selalu memberikan perasaan deg degan bagi saya, termasuk yang ini, ternyataa saat transit di Kuala Lumpur pun saya harus nyebrang perkebunan sawit untuk mencapai terminal KLIA dimana penerbangan domestik non AA berada. Tapi begitu bergabung dengan tim Quiksilver yang lain… legaaa.

Terengganu merupakan tujuan kami,  tepatnya Batu Burok beach, dimana Quiksilver Terengganu Best Event akan dilaksanakan. Well, ombaknya terlihat jauh lebih baik dari Desaru yang sama sama mengandalkan angin di musim moonsoon untuk membentuk ombaknya, bahkan hampir menyerupai Cimaja, solid dan bertenaga, walaupun tetaap yaa yang namanya beach break pasti close out pada akhirnya.

Jujur saya kaget juga setelah mengetahui Terengganu ternyata besar, bukannya merendahkan, di Indonesia kan super jarang tuh yang namanya kota dipinggir pantai yang punya spot surfing, selain Bali dan Padang ya.. kebanyakan hanya pedesaan atau memang daerah wisata yang terbentuk karena ditemukannya ombak terlebih dahulu. Dan lebih kaget juga, ternyata bir tidak dijual bebas disini! Walhasil kami bela belain makan di Chinesse food melulu demi bir dingin, ahh.. kapan saya coba masakan lokalnya dong?

Lumayan keras peraturan disini, nggak boleh sembarangan pakai bikini di pantai, bahkan boss saya yang surfing berbikini pun kena tegur, disuruh pakai kaos, saya pun ikutan melipir mencari kaos hehehe.. Nggak ada bioskop juga, dan poster poster bergambar kawula muda berdugem dengan wajah di blur disertai tulisan ‘Jauhi pergaulan bebas’ bertebaran dimana mana.. hmmmm sedikit mengingatkan saya pada Aceh, kampung halaman alm ayah.

Tapi pemdanya mendukung banget event ini, mereka melihat bahwa surfing sangat berpotensi untuk meningkatkan pariwisata di Terengganu, makanya hadiah kontes kali ini dobel, dari Quiksilver dan dari pemerintah daerah Terengganu, ah buat ngiler.. 😀

Pada hari hari kompetisi berlangsung tidak banyak yang bisa saya ceritakan selain kesan pada hari terakhir, hari dimana final semua divisi berlangsung, ombak naik sehingga pantai Batu Burok yang tadinya lucu menyenangkan berubah menjadi medan tempur yang berat! Ombak ombak dengan tinggi diatas kepala plius interval yang pendek pendek bukan hal yang menyenangkan untuk disamperin dan dimainkan.

Akhirnya, jam jam bebas saya pun tiba! Dengan hati bahagia saya pun minta diantar keliling keliling kota layaknya turis, mencoba berbagai masakan lokal, yang akhirnya kesampaian. Nasi dagang ( sejenis nasi uduk ), nasi minyak ( nasi dan kari ayam ) serta nasi kuning ( mirip banget nasi kuning biasa tapi lebih pekat peliket ) kami pesan semua dan saya coba semua. Bahkan nambah hehehe.. tak ketinggalan dua porsi kerupuk goreng dan jus jagung! hmmmm… Pusing pusing di kota walaupun di malam haripun tak mengapa, Jeremy dan Iddin bener bener menjadi tour guide yang baik. Bahkan saya dibelikan durian dan disuruh menghabiskan sendiri, nah ini baru nyerah!

link event:

http://www.youtube.com/watch?v=drXHQAA-Prk
http://www.youtube.com/watch?v=L6K-ZE28X9A
http://www.youtube.com/watch?v=0grwv4wOEls

3 Replies to “Ombak Negri Sebrang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *