Nias


Nias, satu nama yang sering kita dengar tapi mungkin tidak terbayangkan dalam benak kita, kecuali tradisi lompat batunya yang terkenal itu. Pertengahan Desember tahun kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Nias, disertai harap harap cemas karena reputasi Nias yang saya dengar sebelumnya.

Perjalanan dimulai dengan penerbangan dari Jakarta ke Medan, yang memakan waktu sekitar 1.5 jam. Perjalanan dilanjutkan dari Medan ke Gunung Sitoli, kota dimana bandara di Nias berada. Pilihan maskapainya juga beragam, Riau Airlines, Susi Air, Merpati dan SMAC. Tapi jangan mengharapkan pesawat bermesin jet seperti yang kita ketahui pada umunya, maskapai maskapai ini menggunakan pesawat dengan teknologi yang kita kenal pada saat kita masih kecil dulu, dengan baling baling, rate sekitar 600 ribu rupiah.

Dari Gunung Sitoli saya melanjutkan perjalanan ke Teluk Dalam dengan menggunakan mobil sewaan yang memang banyak disediakan di Nias Utara. Ongkos sewa sekitar 500 ribu. Semenjak tsunami pada tahun 2006 kemarin jalan jalan di Nias banyak mengalami perbaikan, dan hasilnya, ruas Gunung Sitoli – Teluk Dalam full hot mix!

Oke, memang hot mix, tapi jembatan jembatan yang ada tetap tidak permanen. Jembatan besi ini berlapis kayu yang gampang sekali lepas. Tapi penduduk lokal siap membantu jika kita dalam kesulitan dengan imbalan beberapa rupiah. Perjalanan Gunung Sitoli – Teluk Dalam memakan waktu sekitar3 jam.

Teluk Dalam terletak di Nias Selatan, dan terkenal dengan Pantai Sorake nya, atau disebut juga Lagundri Bay, dan merupakan spot surfing bertaraf internasional. Tadinya mimpi untuk surfing di Lagundri pun saya tidak berani, dan sekarang pantai indah dengan gulungan ombak yang sempurna itu terpapar di depan mata, sangat mengundang untuk dicoba.

Kami memutuskan untuk bermalam di Sorake beach hotel. Sebenarnya disana berjajar penginapan penginapan di sepanjang bibir pantai, semuanya bernuansa tropis dan sangat β€œsurfing” dengan kata lain penginapan ini sangat alami dengan dinding kayu yang pastinya tidak memerlukan pendingin lagi. Warung warung kecil terdapat disetiap lantai dasar penginapan, memungkinkan kita untuk melihat aksi para peselancar tanpa merasa kepanasan.

Sorake beach adalah hotel dengan standar yang lumayan bagus, walaupun dari segi penampilan sedikit disayangkan karena terlihat kurang terurus, terutama cat di dinding yang terlihat sudah mengelupas, tapi begitu saya melihat interior kamarnya saya terkejut juga. Sangat kontras dengan tampilan luarnya, interior Sorake beach sangat hangat dan hommy dengan material dinding kayu gelap, berpendingin ruangan, lampu lampu spot segingga menimbulkan kesan dramatis. Rate permalam saat itu 250 ribu. High season di nias biasanya adalah antara bulan april-agustus, dimana ketinggian ombak mencapai ukuran yang mencengangkan sehingga mengundang turis turis mancanegara untuk berdatangan.

Hari pertama di Nias kami memutuskan untuk mengunjungi perkampungan yang terkenal dengan budaya lompat batunya, Buomataluo. Konon desain lompat batu pada mata uang rupiah pecahan seribuan dulu itu diambil fotonya dari kampung ini, dan orang yang melompatnya masih ada walaupun sudah tidak melompat lagi. Sebelum masuk ke kampung kami disambut dengan tangga yang tinggi sekali, sayangnya saya sudah tidak kepikiran lagi untuk menghitung anak tangganya karena pasokan oksigen yang susah masuk. Kampung di Nias sangat unik. Semua rumah adat terbuaqt dari kayu yang mencuat ke depan, dan semuanya harus berhadapan. Jaman dahulu waktu masih sering terjadi perang antar kampung tatanan rumah yang berhadapan ini berguna untuk memperkecil gerak musuh yang menyerang.

Rumah besar yang merupakan rumah adat utamanya mempunyai pintu yang terdiri dari balok balok kayu yang sangat besar, berdiameter kurang lebih 1 meteran. Dan di halaman depannya terdapat meja batu berukuran sekitar 1.5 meter kali 2.5 meter dengan permukaan yang sangat halus termakan usia. Semua desain rumah besar ini sangat menggambarkan jaman megalithic, dengan material yang serba besar.

Tidak lama, para pelompat pun bersiap siap. Mereka sudah melompat dari awal umur belasan tahun. Tinggi batu yang menjadi rintangannya 2 meter dengan lebar 60 centi. Sayangnya yang boleh melompat hanya pria saja, kalau wanita boleh, pasti saya sudah mencoba dengan berbagai cara untuk melompati batu itu. Dahulu, lompat batu ini diperuntukkan untuk mengetes kedewasaan pria yang sudah memasuki masa dewasa, dan layak ikut berperang mempertahankan kampungnya.

Hari hari selanjutnya diisi dengan menjajal ombak di pantai Sorake yang sangat tersohor itu. Di pantai ini ada dua spot yang bisa di pakai, inside dan outside. Asiknya, ombak di spot ini selalu ada, bentuk pantai dan dasar karangnya sangat bagus untuk menangkap gelombang segala ukuran. Maka, tanpa sabar saya segera menyiapkan peralatan yang terdiri dari surfboard, legrope, dan tak ketinggalan, booties ( sepatu karang ). Dengan ditemani para grommet ( anak yang surfing dibawah umur 17 tahun ) saya mulai paddle ketengah dengan perasaan tak menentu antara bersemangat dan tegang.

Saat itu ketinggian ombak berkisar antara 1.5 meter hingga mencapai 3 meter. Tinggi ombak yang demikian lumayannya menurut saya adalah hari hari ombak kecil bagi mereka. Mereka begitu bangga akan ombak Teluk Dalam ini. Dan begitu saya berhasil take off di ombak pertama saya, rasanya nikmat tiada tara. Bentuk yang sempurna dari ombaknya dan gulungan yang lumayan jauh membuat saya puas dengan kualitas ombak Nias. Jangan harap saya mau paddle kembali setelah mengambil ombak, terlalu jauh jaraknya, lebih baik jalan kaki saja menyusuri karang untuk mencapai titik semula.

Sebenarnya gempa beberapa tahun silam juga sangat mempengaruhi kontur dasar laut dari point surfing ini. Karang karang yang ada cenderung naik sehingga gulungan ombak lebih cepat. Saya dapat membayangkan keadaan sebelum gempa, pastinya lebih nikmat lagi.

Lokal surfer di Teluk Dalam sangat baik, mereka sangat menghargai pendatang dari luar, terutama dari daerah yang tidak lazim menghasilkan peselancar. Jakarta adalah contoh yang tepat. Dan pada low season seperti ini tidak terlalu banyak peselancar luar yang bertandang, sehingga kondisinya lebih mengasikkan lagi, tidak terlalu rame di laut.

Tidak terasa waktu yang disediakan untuk berkunjung ke Nias sudah habis. Pada saat malam terakhir kami mendapat undangan bakar ikan bersama anak anak pantai Teluk Dalam yang diketuai Bang Azis. Bersama sama kami bermain gitar, bernyanyi dan menyantap ikan bakar yang berjejer jejer di depan mata. Benar benar kunjungan yang tak terlupakan, Sorake beach, a loveable righthander, a loveable beach..

4 Replies to “Nias”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *