Menjelajah Raja Ampat part 2

“Banguuuun… sudah jam 4!!”
Wah gelo tuh yang tereak-tereak pake toa di tengah malam gini. Belum pernah kelilipan sendal apa ya.. Ntar dulu, jam 4 disini berarti kan jam 2 di Jakarta yaaaa? Duh…

Butuh waktu beberapa saat hingga saya menyadari situasi sebenarnya. Si gelo yang minta kelilipan sendal itu adalah MC tercinta, MC Ope kita yang berjasa besar membangunkan semua perserta rombongan di pagi buta untuk segera bersiap ngecengin Cendrawasih di atas bukit. Rasa kantuk meskipun mustahil hilang, lumayan terusir dengan iming-iming bisa ngeliat Cendrawasih secara live. Wuih cantik banget pasti tu burung.

Rupanya perjuangan tidak semudah yang saya bayangkan. Tanjakan di bukit Cendrawasih bukan jalan yang mudah, apalagi dilakukan di pagi hari saat seharusnya leyeh-leyeh ngupi sambil ngecengin laut jernih depan kamar. Dengan mata sepet, napas terengah-engah, betis pegal dan mulut setengah mangap, kami terus melaju membelah hutan menuju tempat mangkal si Cendrawasih. Berkali-kali kami diingatkan supaya tidak berisik, takutnya Cendrawasih nya ge-er dan menyingkir.

Larangan tidak boleh berisik bukan berarti lantas semua jadi diam. Bisik-bisik berisik pun tetap berlangsung selama pendakian dan penantian, yang kemungkinan jadi penyebab kami tidak bertemu si cantik dari Papua itu, selain kami juga terlambat berangkat tadi subuh. Sebagai gantinya, foto-foto dialihkan ke arah laut untuk menangkap keindahan pulau-pulau dari ketinggian.

tuh, nggak ada capek2nya ya mukanya…

pose bentar ala gadis hutan asik sendiri…

yoga di atas pu’un
pemandangan pengambil napas ( breathtaking view 😀 )
nyobain macro

gangguin kelas anak2 Saporkren 😀

” Kudu bayar 200 ribu per lima orang kalau mau kasih makan ikan disini” Jelas Bang Zoel begitu kami merapat di dermaga desa Sawinggrai. 

Yak, di desa ini memang kita bisa memberi makan para ikan-ikan yang heboh melahap apapun yang dilepamparkan ke laut selama masih dalam kategori makanan. Maka kita juga nggak bisa sembarangan memberi makan ikan-ikan itu, penduduk setempat sudah menyiapkan hidangan khusus konsumsi ikan yang rupanya mirip-mirip mash potato.

Jangan berani-berani menginjak karang disini kalau nggak mau kena semprot bapak-bapak yang selalu mengawasi kelakuan para tamunya. Masyarakat lokal disini memang sangat menyadari, bahwa keutuhan ekosistem di sekitarnyalah yang memberi pemasukan secara tetap pada desanya. Dengan mereka menjaga coral serta ikan-ikan yang ada, tamu terus berdatangan untuk menikmatinya. Kalau sampai mereka merusaknya untuk keuntungan instant semata, hanya saat itulah uang masuk dan selanjutnya tidak ada daya jual lagi. Patut diancungi jempol.

bareng mas Kiki, temen nyilem2an
kerja… kerjaaaa
belaga mermaid


all pics taken with Nokia Lumia 1020

6 Replies to “Menjelajah Raja Ampat part 2”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *