Manusia Perahu





Kalau bicara masalah pelosok, ternyata nggak melulu daratan, lautpun harus diperhitungkan. Di kepulauan Riau dekat Batam terdapat satu suku yang mendiami perairannya, dan mereka tidak menetap di wilayah tertentu atau desa tertentu seperti kebanyakan suku yang kita ketahui, melainkan selalu berpindah diantara pulau pulau kosong atau berpenghhuni yang tersebar di kepualau Riau.

Niat kami untuk menemukan mereka memang tidak mudah, bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Gimana enggak, kita hanya tahu keberadaan mereka dari laporan para nelayan yang terakhir melihatnya. Bayangkan betapa tidak akuratnya info tersebut, karena mereka terus bergerak perbedaan satu hari saja sudah membuat banyak perbedaan pada posisi mereka saat itu.

Jadi berdasarkan info terakhir kami memutuskan untuk mengunjungi satu wilayah dimana kami akhirnya harus menginap satu malam di pulau kosong untuk mengejar waktu di pagi harinya. Tanpa tenda yang tertutup, hanya sebilah terpal, beralaskan terpal lainnya, kami menghabiskan malam itu dengan harap harap cemas , semoga paginya kami menemukan mereka.

Hari masih gelap gulita ketika saya dibangunkan untuk melanjutkan pencarian, dengan masih terkantuk kantuk kami pun berangkat lagi. Yess!! Saat matahari terbit akhirnya yang dicari ketemu. Kami menemukan dua keluarga yang sedang memancing di perahu masing masing!!

Untuk mengenal lebih jauh, saya pun nekat minta ijin naik ke perahu mereka dan mencoba mengajak ngobrol si bapak kepala keluarga. Ternyata mereka lancar untuk mengerti bahasa Indonesia, walaupun waktu membalasnya tidak sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia, melainkan campuran melayu dan bahasa mereka yang kosakatanya nggak ketebak artinya apa.

Perahu mereka nggak terlalu besar, lebarnyanya paling semeteran lebih dikit dengan panjang 6 meter, tapi semua yang mereka butuhkan sudah built in disitu, sebut saja, dapur, kamar tidur, tempat menaruh layar dan dayung, tempat penyimpanan pancing. Tapi saya sempet bertanya juga, ini susunan tidurnya gimana, secara anaknya ada 3 masih kecil kecil, dan si ibu kelihatannya heran kenapa saya bertanya gitu, jawabnya: ya satu disini, yang satu disitu dan disitu, saya disini.. katanya sambil tunjuk tunjuk… saya tetap bengong.

Memasak dalam perahu kecil itu pun bisa bisa aja, kompornya ada di bawah ‘dek’ yang berupa tumpukan kayu dikelilingi pasir, dan kalau sedang ditak dipakai bisa ditutup dengan papan sehingga kita nggak bakal tau kalau dibawah situ ada kompor. Gula, kopi dan the pun punya tempat penyimpanan sendiri, jadi ngebayangin si bapak tiap hari mincing sambil ngopi ngopi santai.. sepertinya enak juga ☺

Cara mencari ikan pun unik, mereka nggak pakai pancing, tapi ditombak. Dengan posisi jernih si bapak sangat mudah untuk menentukan posisi ikan apalagi perairan disana masih super jernih, makanya mereka mencari ikan saat air laut surut jadi lebih mudah untuk menombak.

Saya gatel banget meolantarkan pertanyaan ‘ Mandinya gimana bu kalo terus terusan di perahu gini?’ bukannya apa apa, mereka itu terlihat gosong dengan rambut ala anak pantai dan pastinya bau matarahi walaupun bau badannya bisa dibilang nggak terlalu tercium. ‘Ya kalo ketemu pulau yang ada sumurnya aja, Mba’ jawab si ibu.. woow kan nggak tiap hari ya bakal ketemu pulau yang ada sumurnya. Saya sih udah pasti gatel gatel kalo coba coba ngikutin mereka.

Anak anaknya yang masih kecil kecil itu pun terlihat nggak mengenyam pendidikan formal layaknya anak anak lain. Ya gimana caranya mau sekolah kalo orang tuanya traveling terus kaya gitu? Pemerintah sempet membuatkan mereka perumahan nelayan dipinggir pantai, lengkap dengan sekolah dan puskesmas, tapi rpoyek itu nggak berlangsung lama, soalnya mereka nggak betah lama lama didaratan. Ternyata itu karena pandangan mereka terhadap daratan sebagai tempat menguburkan kerabat yang sudah berpulang, sehingga berkesan kotor dan nggak layak dihuni. Wooww… pasti udah mereka udah built in dengan anti mabok laut dari kecil 🙂

4 Replies to “Manusia Perahu”

  1. Pasti perlu upaya ekstra keras untuk menemukan pengembara laut yang tak pernah gunakan kompas, hehe.. (Ps: enak banget dibaca, tapi salah ketiknya banyak sekali, ngantuk ya? Kapan tulis buku ttg kekayaan budaya kita? Ciao!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *