Lembeh – Keceriaan di Pasir

ada yang mau pulang setelah disuguhi pemandangan ini? 🙂
pemandangan selat Lembeh dari Lembeh Hills Resort
main2 ke pasar ikan
                    
Angel’s Window, tempat yang pas buat narsis2an. Pic by Pinneng

 

Can you see what I see? pic by Pinneng
Hasil jepretan sendiri, sukses walapun ampe nungging-nungging. Bisa liat objeknya?
Nudi ( siput laut ) yang sedang indehoi. Pic by Pinneng
Tarsius, salah satu endemik minahasa yang hanya bisa ditemukan di sana.

Lembeh identik dengan muck dive,  penyelaman yang mencari keunikan mahluk hidup pada dasar berpasir atau berlumpur. Pertama kali mendengar penjelasannya pun saya tidak yakin akan tertarik mencoba muck dive ini. Sampai tawaran untuk ke Lembeh benar-benar datang.

Mencoba membekali diri dengan pengetahuan seadanya tentang critters di Lembeh dengan cara googling, saya membangun rasa ketertarikan tersendiri setelah mengetahui mahkluk apa yang akan saya temui disana. Rupanya memang tidak heran Lembeh dikenal karena keunikan critters-nya. Sebagian besar bentuknya jauuuhhh.. dari ikan 😀
Resort pertama yang disamperin adalah Eco Divers, sekilas sih mirip-mirip perumahan di BSD hehehe.. Yang seru dari tempat ini sang owner, Cary, perhatian banget dengan kebutuhan kami. Full wanti wanti deh pokoknya. Nggak boleh ini itu, yang semuanya untuk kebaikan kami dan alam sekitar.
Beberapa penyelaman yang dilakukan bersama Eco Divers menjadi pengalaman muck dive pertama saya. Mulai dari ngintip nudi ( siput laut) kawin, dan jangan berpikiran macam-macam untuk hal ini karena mereka hanya seperti saling menjulurkan tangan saja.  Bertemu dengan Hairy frogfish yang badannya tertutup bulu serta bergerak dengan cara merangkak ( ini benar-benar mengingatkan saya akan doggie di dirumah).
Frogfish sendiri ternyata bermacam-macam, dan bisa dipastikan susah mengenali mereka diantara coral atau tempat bercokolnya kecuali dia memutuskan untuk membuka mulut dan bergerak sedikit. Baik warna maupun bentuk benar-benar serupa dengan sekelilingnya.
Begitu juga saat saya pindah ke Lembeh Hills Resort. Tempat yang sangat sesuai untuk bulan madu maupun bersantai bersama keluarga ini makin membuat saya betah berlama-lama di Lembeh. Lokasi penyelamanya sih mirip-mirip juga, diantaranya Hair Ball, Pantai Parigi, TK1 dan TK2, Nudi Retreat. Yang paling berbeda sih Angel’s Window, karena disana terdapat coral-coral, bahkan gua pendek yang bagus buat lokasi pemotretan (narsis mode on)
Bertemu dengan bargibanti seahorse yang sedang hamil merupakan pengalaman tersendiri. Apalagi disusul dengan ghost pipe fish, yang juga sedang menjaga telur. Indah dan mengintimidasinya bentuk electric clamp, betapa kecil dan misteriusnya muka Lembeh seadragon seahorse. Semuanya membuat saya betah berlama-lama.
Oh yaaa, satu lagi yang membuat saya senang sebagai newbie.. bisa ngakak ( kebayang caranya dengan regulator di mulut?) cuma dengan melihat cuttlefish. Sotong imut yang bisa berubah warna kalau merasa terancam, secara drastis, serta berjalan mundur, atau paling tidak begitulah kesan yang ditimbulkan karena arahnya berlawanan dengan posisi kepalanya.
Kalau biasanya penyelaman saya hanya 40-60 menit, kali ini angkanya membengkak menjadi 70-80 menit perdive. Resikonya ya.. saya jadi sering kedinginan aja, padahal suhu air normal.
Sekilas info mengenai kenapa selat Lembeh ini bisa menjadi demikian unik, yang disebabkan ledakan tiga gunung berapi disekitarnya, Batu Angus, Dua Saudara dan Kelabat. Memuntahkan isi perutnya pada selat tersebut dan mengubur semua bentuk kehidupan yang ada. Kondisi yang ada bertahan hingga kini karena karang-karang tak dapat bertumbuh di permukaan yang tidak stabil seperti pasir,

Penjelasan lebih lanjut mengenai terjadinya selat Lembeh ini saya uraikan secara lengkap di Divemag Indonesia edisi Lembeh. Baca disana aja yaaa.. 

Yang tidak saya ceritakan di Divemag adalah saya berusaha untuk mencoba memegang kamera, yang ternyata tidak semudah saya duga.  Selain objeknya super mini, buoyancy juga masih perlu porsi yang cukup besar. Walhasil pada percobaan pertama melihat skeleton shrimp, walaupun mereka sangat banyak dan tidak berpindah tempat pada satu batang, saya mengintip batangnya pun nggak bisa fokus!

Percobaan kedua, saya mencoba memotret frogfish putih yang tergeletak diatara coral yang juga berwarna putih, Nah kali ini, saya berhasil !! Walapun masker Pinneng yang seharusnya menjadi penghias background turut tampil namun gagal total masuk ke frame… percobaan ini masih terbilang sukses.

Yang harus saya informasikan juga adalah, makanannya nggak ada yang nggak enak.. membuat saya sulit mengontrol nafsu makan yang langsung berkolaborasi dengan berat badan. Sekian

3 Replies to “Lembeh – Keceriaan di Pasir”

  1. frogfishnya jago banget ya kamuflase di antara batu-batu. saya harus deketin muka ke layar supaya bisa liat. juga yang di coral warna pink… sangar kamuflasenya. 😀

    saya jadi penasaran, apa dari kecil seekor frogfish warnanya udah begitu atau malah bisa ganti-ganti kayak bunglon? :p

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *