I wish I was a Goofy

“Kenapa nggak ke Rote aja?” Celetuk teman saya dengan santainya. Saya memang berencana untuk mencari ombak kiri sebelum pertandingan berikut yang berlokasi di Balangan, Bali.
 
“hah? Boleh Banget!” Tanpa pikir panjang saya mengiyakan ajakan gila tapi masuk aka tersebut. Teman saya yang tinggal di Kupang ini pastinya lebih mengenal akses ke pulau terselatan Indonesia tersebut.
 
Setiap surfer pasti punya dream wave nya sendiri-sendiri. Untuk saya, karena sudah beberapa kali kelewatan moment mengikuti kompetisi yang dilangsungkan di Rote, dan juga dengan nama besar Nembrala… Rote, terutama dengan point ombak kirinya yang melegenda itu, merupakan salah satu dream wave saya.
 
Tanpa disadari proses keberangkatan kami telah sampai pada tahap membeli tiket di Tenau, dermaga yang terletak di Kupang, dimana orang-orang telah mengantri untuk membeli tiket kapal cepat yang akan membawa kami ke Rote.
 
Surfer dengan bawaannya yang segambreng tampak bertebaran dimana-mana. Bahkan beberapa terlihat cuek baring-baring di lantai ruang tunggu sembari menggunakan surfboard mereka sebagai penyangga kepala.
 
Waks! Untuk surfboard ternyata kudu bayar lagi, berasa cek in di bandara yang kudu bayar lebih buat sport equipment. Tapi okelah, emang makan tempat banget sih. Dan begitu kapal mulai memasuki perairan yang lebih terbuka, sebaiknya keluar dan mencari spot yang terekspose supaya nggak terlalu berasa mabok laut. Walaupun dengan resiko basah hehehe…
 
Tak terasa 1 jam 40 menit kami tiba di Ba’a.
 
“Surfboard bakal diturunin ga ya? Saya bertanya-tanya sambil celingukan mencari di antara tumpukan surfboard yang sudah tergeletak pasrah di aspal panas pelabuhan.
“Harusnya mereka turunkan sih, tapi kok itu para surfer nurunin board nya sendiri ya?” Teman saya jadi ikutan celingukan. Akhirnya ia berinisiatif untuk masuk lagi, mencari sendiri surfboards saya dan sukses mengeluarkannya. Yup, it’s a self service yaahh..
 
 
 
Ada dua cara untuk mencapai Nembrala yang terletak di sebelah barat bawah Rote dari Ba’a.  Dengan kendaraan umum atau angkot 50.000 perorang ( saya lebih setuju kalau namanya jadi anglau : angkutan pulau ) atau bisa juga carter mobil 200-250 ribu.. yang juga ternyata berbentuk angkot hehehe.. mereka menyebutnya dengan bemo.
 
Berhubung kami mencarter bemo, jadi surfboardpun bisa masuk ke dalam. Dan selama dua jam perjalanan, pemandangan berganti-ganti antara perkampungan dan padang rumput khas Indonesia Timur. Tapi tidak ada warung atau rumah makan….
 

One Reply to “I wish I was a Goofy”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *