I wish I was a Goofy – 2

I wish I Was a Goofy 1

Sudah cukup banyak penginapan yang bisa dipilih di Nembrala ini. Baik yang dikelola oleh warga asing maupun lokal. Harga pun beragam, dari yang jutaan semalam, sampai yang 150ribu permalamnya. Pastikan kalau harga sudah termasuk makan, karena tidak ada warung atau rumah makan disini. Yang ada hanya warung kelontong kecil dan satu bar untuk ngebir.
 
Penginapan kami cukup sederhana dengan dua bed berkelambu, dan kamar mandi dalam, tidak ber ac dan tv ( jangan harap deh kalau disini) dan juga sepasang kursi plastik berwarna cerah di teras. Serta sumur di tengah halaman untuk membasuh surfboard setelah surfing.
 
Babi-babi menggemaskan tampak hilir mudik di halaman dan pantai. Ibunya yang biasanya diikuti serobongan anak-anaknya tampak sibuk mengendus-endus tanah dengan hidung bulatnya. Lucu sekali. Disini babi memang piaraan keluarga layaknya anjing atau kucing.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
“Hei, you guys just coming?” Sapa tetangga kami yang nampaknya telah melekat disana selama berminggu-minggu.
“ Yeah we just arrive with the ferry this morning.”
“ Kewl, where aru guys come from?”
“ Jakarta.. “
“ Really? Wow, busy city huh… You surfing?” Tanyanya sedikit bingung, karena memang nggak lazim surfer Jakarta travelling sampai sejauh ini untuk surfing. Mereka terbiasa dengan para surfer dari Bali.
 
“ Where is the break?” tanya saya yang memang benar-benar buta soal titik surfing di Nembrala dan kondisinya ini.
“Emm.. just walking to the left until you find the boats park, and you can get one of them to take you to the break” Haaa…. Jauh yaaah ternyata ombaknyaaah.. Kalau paddle sepertinya keburu copot deh tangan.
 
Modal nekat, setelah bongkar barang dan menyiapkan surfboard, kami menyusuri pantai mencari boat yang bisa mengantar kami ke main break, the famous Nembrala, longest lefthander in Indonesia.. wooow!!
 
Nggak berapa jauh, sudah tampak boat-boat parkir dengan manisnya di pantai berpasir putih dan berair toska jernih. Ini benar-benar surga buat saya yang terbiasa dengan pantai berair butek ala pelabuhan ratu, terutama Cimaja yang sudah saya anggap sebagai homebreak tercinta saya.
 
“ Going surf?” sapa seorang anak muda berkacamata aviator dari atas botanya.
“ Beta orang Kupang, kitong mo pake boat pi sana” sambar teman saya dengan logat lokalnya. Hehehe.. kebayang kagetnya si anak itu, ternyata orang Kupang ada juga yang tenteng-tenteng papan surfing .
 
Akhirnya setelah tawar menawar dan pmedapatkan harga lokal yang saya ga sebutkan disini karena janji kami kepadanya supaya nggak menurunkan pasaran, kami pun diantar ke tengah. Sekarang saya mengerti, kenapa kami harus menyewa boat. Jauh beeeeett!!!!
 

2 Replies to “I wish I was a Goofy – 2”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *