Maratua – Diving with Turtle

 
berusaha mensejajarkan kecepatan dengan penyu sebelum menyerah 😀 capek juga hahaha..
 
me and Lissabrina
 
stingless jellyfish
water villa di paradise, jadi berasa suku Bajo 🙂    
Nggak nyangka saya bisa mengunjungi kepulauan Derawan yang berada di Kalimantan TImur untuk kedua kalinya!! Gimana nggak, untuk menuju kesana perjuangan cukup panjang, mulai dari pesawat dari Jakarta – Balikpapa, lanjut dengan Balikpapan – Berau dengan lama penerbangan kurang lebih sejam. Itupun masih harus lanjut jalan sungai tembus ke laut selama.. 3 jam kali ya. Rasanya lamaaa sekali. Apalagi waktu giliran masuk ke laut mulai kerasa goncangan-goncangan yang nggak menyenangkan kalau kita berada di ruang tertutup.
 
Akhirnya kita mendarat, saya dan teman-teman sekantor yang sedang outing ( Yes.. ini adalah acara outing kantor Divemag hehehe.. ) bisa menginjakkan kaki di darat… Eh, di dermaga! Ternyata kami semua kebagian water villa a.k.a tetep aja diatas laut. Antar kamar, restaurant dan dive center semua dihubungkan dengan jembatan kayu. Begini rasanya jadi suku Bajo ternyata..
 
Diving hari pertama ke Maratua Reef untuk cek dive, kami memerlukan dua boat. Berasa study tour tapi kegiatannya diving hahaha.. seru dan ribet-ribetnya mirip. Ada yang cari maskernya lah, ada yang nanya pemberatnya ketuker sama yang lain. Saya sendiri heboh cari BCD yang nyempil entah dimana. Untung aja pada akhrinya semua beres dan masing-masing mendapatkan gearnya sendiri-sendiri.
 
Dua kali dive di hari pertama kami akhrinya terpecah melakukan penyelaman di dua site yang berbeda. Kalo istilah anak-anak, tim arus kuat dan arus lemah.. ( yang anak elektro pasti tau ini, saya sih nggak ngerti hahaha.. ) Dan di setiap penyelaman kami bertemu penyu dan bumphead yang sibuk mencari sarapan. Arus memang kencang, tapi enaknya jadi nggak usah kicking. Cuma kalau mau mengamati sesuatu lumayan setengah mati bertahannya. Berasa diterpa angin.
 
Hari kedua kami melipir ke danau Kakaban. Danau unik ini terbentuk karena naiknya karang atol ( karang cincin) ke permukaan juataan tahun yang lalu. Ubur-ubur yang ada di dalamnya terperangkap dan karena nggak punya predator selama kurun waktu tersebut maka berevolusi lah mereka, menjadi ubur-ubur ramah yang tidak menyengat. Walhasil kita bisa berenang-renang dan bermain-main bersama mereka yang memang banyak mengapung di dekat permukaan pada pagi hari.
Selain ubur-ubur Kakaban, yang seru juga disini adalah penyu traffic pointnya. Sangalaki memang dikenal sebagai tempat bertelurnya penyu hijau no1 di Indonesia. Nggak heran waktu kami nyemplung di site ini, penyu bertebaran dimana-mana. Ada yang leyeh-leyeh, saking santainya sampai cuek waktu kita lewat-lewat diatasnya. Ada juga yang berenang hilir mudik. Rasanya penasaran ingin mensejajarkan kecepatan renang penyu, yang segera disadari kalau hal itu sia-sia belaka hahaha.. yang ada udara di tabung cepet abis karena ngos-ngosan.
Tiap kali kelar diving dan balik ke resort yang bernama Paradise Maratua Resort itu, rasanya memang seperti mampir di Paradise alias Surga. Gimana nggak, dari dermaga kayu, setelah lelah diving seharian, kita bisa ngupi-ngupi atau ngeteh sambil leyeh-leyeh melihat matahari terbenam. Sementara kalau mengalihkan pandangan ke bawah dermaga, air laut jernih berdasar pasir putih seakan membuat panggung sendiri dengan lakon scorpion fish dan ikan-ikan panjang yang saya nggak tau namanya ( bukan pipefish) hilirmudik.
Nginep diatas bangunan yang berada diatas laut bukannya tanpa rasa was-was juga. Apalagi satu malam kita diterpa badai. Yang pertama teringat adalah : jemuran baju basah dan bikini! Karena kalau terbawa angin kan langsung terjun bebas ke laut tanpa ampun. Setelah itu barulah menyadari kalau rumanya bergoyang!! Hiiy, mudah-mudah an saja kayu penompang cukup kuat dan atap rumah juga nggak ikutan terbang terbawa angin. Jadilah sepanjang malam itu tidur dengan resah sambil sekali-sekali mengintip keadaan diluar.
Kondisi yang pas untuk mengunjungi kepulauan Derawan adalah pada saat musim kering. Selain penyebrangan yang lebih santai nggak terguncang-guncang, acara berjemur juga lebih maksimal. Pantainya yang berpasir putih juga lebih puas dinikmati dan bisa jadi background foto-foto yang mantap.
Cerita lebih lengkapnya bisa di cek di edisi Divemag Indonesia yang bakal keluar desember ini, yang meemang bertema Kakaban. So.. kepulauan Derawan memang layak masuk ke list kunjungan wajib di Indonesia 😉

 

 
 

2 Replies to “Maratua – Diving with Turtle”

  1. Wew..gak kebayang…tidur di atas hotel terapung..ntr kalo bangun tidur, tau2 hotel terapung kita keseret arus, gmn dunk kak? Hahaaa.. Tp semua itu pasti sebanding dgn keindahan alam dan bawah laut di sana..makasih banyak critanya kak Al 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *