Gua Bloyot di Karst Merabu

screen-shot-2016-12-01-at-8-10-31-pm

“Dimana mereka tidur ya?”

“Tiap hari harus manjat gini kalau mau masuk rumah.. apa nggak capek ya?”

Beberapa pikiran yang melintas di kepala saat melihat peninggalan sejarah yang tersembunyi di dalam gua ,yang terletak di tengah hutan namun berjarak tak terlalu jauh dari kampung Merabu yang terletak di Berau – Kalimantan Timur. Rekam jejak manusia purba dapat terlihat jelas dari lukisan tangan yang banyak terpampang di dinding goa.

Perjalanan hanya memakan waktu 2 hingga 3 jam berjalan kaki dari kampung, dengan medan yang cukup datar. Pikiran saya berkecamuk sepanjang perjalanan, membayangkan cara hidup para manusia purbakala tersebut yang selalu bergerak dan berburu diantara lebatnya pepohonan saat itu.. setiap hari.

Pemukiman manusia purba selalu dapat dipastikan berjarak tak terlalu jauh dari sumber air, dalam hal ini, sungai Nyadeng. Saat manusia belum kepikiran untuk membangun tempat bernaung seperti rumah, mereka mengandalkan tempat berlindung yang disediakan oleh alam : Gua.

Gua menjadi lokasi bernaung dari cuaca dan juga hewan buas yang dapat membahayakan mereka. Namun tak semua gua yang ditempati mudah dijangkau seperti rumah yang memiliki jalan masuk.

Gua Bloyot ini terletak di tebing-tebing curam, yang cukup sulit untuk dijangkau orang kebanyakan saat ini. Tapi tentu saja kondisi seperti ini justru memberikan keuntungan lebih dalah segi kemanan bagi para penghuninya.

Pintu masuk “rumah” diawali dengan lubang sempit yang diapit pepohonan di permukaan yang cukup miring, sekitar 45 derajat. Lubang tersebut merupakan pintu masuk ke ruang goa yang cukup luas berhiaskan stalagtit didalamnya. Perjalanan menuju ruang tamu harus melewati lorong yang terputus oleh dinding batu. Tangga kayu telah terpasang untuk memudahkan manusia masa kini mendakinya.

“Lah kalau jaman dulu, gimana caranya nih ibu-ibu yang baru pulang dari mencari umbi-umbian dan air memanjat bagian ini?” Pikiran-pikiran naif yang sulit dihindari.

Perjalanan menuju ruang keluarga dan ruangan leyeh-leyeh keluarga masih harus melalui sisi terbuka yang hanya menyisakan sedikit pijakan kaki untuk mencapai ruang yang berada di atasnya.

Setelah melewati beberapa ruangan akhirnya sampai juga di ruang utama yang terdiri dari ruangan luas dengan dinding terbuka yang memberikan kesempatan pada penghuninya untuk melayangkan pandangan seluas mungkin.

Akhirnya terlihat lukisan tangan di sepanjang dinding. Kembali terbayang percakapan para penghuninya saat itu :

“Mah, kemarin papa kepikiran kita bikin lukisan tangan sekeluarga deh”

“Gimana caranya? toko cat kan belum ada.”

“Pakai darah binatang buruan kita dong, disemburin.”

“Oh iya ya.. yuk kita coba.”

Dan mereka pun sibuk saling sembur menyembur diatas tangan para anggota kelurga yang lain, sembari mencoba menggambar binatang buruan mereka seperti babi hutan dan rusa. Dan terlahirlah gambar cap tangan berbagai ukuran berwarna merah.

tamat.

info

Tanjung Redeb – Kampung Merabu : 4 jam perjalanan.

Penginapan di Kampung Merabu yang tersedia adalah homestay di rumah warga, beserta makan tiga kali sehari.

4 Replies to “Gua Bloyot di Karst Merabu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *