Explore Sabah : Tip of Borneo

DCIM100MEDIADJI_0113.JPG
Drone by Billy Djokosetio

“Get ready by four, we are going to Kudat for about 2 until 3 hour driving from KK” Bobby, guide kami yang periang dan selalu tersenyum bahkan saat bicara itu (saya selalu mengagumi orang-orang dengan kemampuan seperti ini, bagai bicara untuk promo iklan di tipi-tipi gitu), memberikan briefing singkat singkat siang itu. Oya, by the way yang disebut dengan KK itu Kota Kinabalu, terletak di Sabah.

Kudat, daerah tujuan kami, merupakan nama satu daerah yang terletak di titik paling utara Borneo, disebut juga Tip of Borneo, dimana titik nol pulau itu berada. Dan yang paling saya tunggu-tunggu, Kudat juga merupakan area dimana ombak yang terbentuk dari energi gelombang yang berasal dari laut Cina Selatan terbentuk, dengan kata lain : BISA SURFING DI BORNEO !!! Gila ga tuuh??

Masa kecil saya yang berada di Balikpapan, Kalimantan Timur telah mengajarkan pada saya bahwa, nggak bakalan ada ombak di Kalimantan karena posisinya yang nggak terbuka menghadap samudera. Tapi di bagian utara ini, tepatnya di Kudat, area ini justru sedang dikembangkan untuk para surfer.

Perjalanan berasa lama karena ternyata kami telat berangkat dan keburu terjebak rush hour orang-orang pada pulang kerja (ternyata bukan semata-mata fenomena di Jakarta aja ya). Jadilah perjalanan yang harusnya hanya 2 jam belaka jadi molor menjadi 4 jam.

Meskipun begitu, selepas area kota Kinabalu, perjalanan lumayan tak terasa karena jalanan yang super lengang dan mulus.

“Welcome to Simpang Mengayau.” Bobby guide kami yang imut itu kembali memberikan penjelasan ketika kami semakin mendekati area tujuan. Hmmm.. sepertinya saya pernah mendengar istilah mengayau. Ah ya.. Istilah yang sama dengan yang digunakan oleh suku dayak di Kalimantan juga.

“What’s the meaning of Mengayau, Bobby? In Indonesia, Dayak people use word mengayau for going out and cut some people’s head for their offering to the village or to the girl’s parents they like. It’s a sign for maturity. Century ago of course.” Saya penasaran.

“Simpang mengayau has the origin word : sampang magazao, means special location for local people to defend their village from pirates attack.” Ah ya, kurang lebih sama lah intinya, pergi bertarung dengan alasan apapun, terutama membela kampung.

Cahaya matahari tak membangunkan kami dari tidur nyenyak semalaman di Marina resort. Sepertinya gabungan antara efek kelelahan, terblokir sempurna matahari dari jendela dan hujan rintik-rintik yang turun sejak subuh menjadi alasan yang sempurna.

Ini dia beberapa objek seru yang bisa dieksplore kalau kamu ke Kudat :

  1. Bronze Globe of Simpang Tanjung Mengayau

Segera setelah hujan berhenti kami menyambar sepeda masing-masing dan meluncur ke titik terujung utara dari Borneo.

Nggaaak, nggak jauh kok dari resort yang kami inapi. Nggak sampai berkilo-kilo meter, cukup hanya 500 meter saja hehehehe (ketahuan pemalas). Dan dari kejauhan kami melihat sebuah tugu berbentuk bundar dengan tulisan Tip Of Borneo di permukaannya, setelah sebelumnya sepeda kami meluncur menuruni bukit dengan kencangnya, dan menanjak tepat sebelum mencapai tugu budar Bronze Globe tersebut.

Tips : hati2 ya kalau ngebut di turunan, tapi jangan terlalu pelan juga supaya mengayuhnya nggak jauh lagi hehe

dsc03729-copy
pic by Pinneng

Naaah, dibelakang tugu ini terdapat tangga dimana kita bisa mengeskplore lebih jauh lagi, turun hingga ke pantai tebing yang memiliki tekstur unik bagaikan pasir berwarna oranye bergaris-garis.

Nah di pantai karang ini kita bisa berjalan dengan hati-hati hingga sampai ke ujungnya.. LITERALLY UJUNG BORNEO!!! Can you believe that?!

  1. Surfing Kudat

Nah ini dia niii… kesukaannya Wet Traveler hehehe. Surfing! Bahkan saya sudah bela-belain datang kemari membawa papan surfing sendiri!

Kudat cukup terekspose terhadap laut Cina Selatan, sehingga memiliki cukup energi yang memberikan ombak pada pesisirnya. Namun karena saat itu swell nggak cukup besar untuk membentuk ombak yanglayak dipakai surfing pada point tip of Borneo, maka kami melipir ke pantai Tindakon Dazang yang berjarak sekitar 30 menit dari lokasi kami menginap.

img_3795
Sayang waktu kesana ombak lagi kecil. pic by Chales Mawan

Beruntung Ivan dan Charles dari komunitas surfing Sabah bisa menemani kami. Mereka juga membawa beberapa longboard untuk belajar. Rupanya memang ombak di daerah ini cocok juga untuk belajar, apalagi saat ombak nggak terlalu besar.

img_3793
bareng Ivan (chairman of Sabah Surfing Ass, Charles (surfer dari KK) dan Ken (surfer lokal Kudat)

Ternyata pantai Tindakon Dazang mempunyai sudut-sudut menarik untuk berfoto, just in case kamu yang kesini nggak untuk surfing. Selain terdapat tebing fotogenic berwarnnya oranye tersebut ada juga danau sungai dengan jajaran hutan bakau yang tumbuh subur di sepanjang kedua sisinya.

Terdapat juga restoran yang saat itu kosong tanpa pengujung satupun, rupanya pada hari biasa pantai ini memang nggak menjadi tempat nongkrong.

img_3790
Ombak Kudat kalau lagi ‘on’ by Charles Mawan

Komunitas surfing disini baru terbentuk 10 tahun, umur yang terbilang muda untuk sebuah kultur surfing. Ivan, surfer pertama dari Kota Kinabalu yang sekarang juga merupakan ketua dari komunitas ini, mulai tertarik belajar surfing sejak kunjungannya ke Bali. Kalian bisa tonton obrolan bareng Ivan di video yang ada di bawah ini.

img_3796
pic by Charles Mawan

Hanya satu yang saya sesalkan, ombak tidak cukup besar saat saya bertandang kesana saat itu. Pertanda lain kali harus kembali lagi untuk surfing ombak Borneo yang sebenarnya *wink

Big thanks to Sabah Tourism and Basecamp Adventure

sabah-tourism-board-logo-new

bcac-logo-transparent-1-copy-blackpng

5 Replies to “Explore Sabah : Tip of Borneo”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *