Edge of Borneo

Perjalanan dimulai dengan pesawat dari Jakarta menuju ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Dalam 2.5 jam saya sudah tiba di kota yang terkenal dengan Kota Minyak ini, dan kesan pertama saat melihat kota ini adalah bersih dan modern, tidak seperti layakanya kota kota diluar Jakarta. Tapi sayangnya hanya semalam saya transit dikota ini sebelum melanjutkan perjalanan kearah utara.

Keesokan harinya saya melanjutkan perjalanan masih dengan pesawat menuju ke Tanjung Redeb, kabupaten Berau yang terletak di utara Kalimantan Timur dengan lama perjalanan 1 jam. Untuk alternatif bisa melalui jalan darat dengan mobil juga hanya saja waktu yang dibutuhkan mencapai 20 jam.

Tanjung Redeb sendiri dikenal sebagai Kota Batubara,sehingga tidak lama saya dikota ini saya melihat banyak mobil mobil operasional dari perusahaan batubara yang berseliweran. Tidak sulit mencari penginapan disini, karena merupakan fasilitas standar dengan banyaknya perusahaan batubara yang ada. Di Tanjung Redeb kami saya bermalam lagi sembari menghubungi teman teman dari TNC, The Nature Conservacy. Bersama mereka kami merencakan untuk berangkat keesokan paginya dengan speedboat menyusuri sungai yang terletak di tengah kota Tanjung Redeb, menuju kearah Timur,ke muara, dimana kami akan mengarungi laut lepas.

Pada jam yang ditentukan kami berkumpul di dermaga, siap dengan perbekalan dan tas tas. Perjalanan yan ditempuh untuk sampai ke muara berkisar 40 menit., setelah itu segeta kami melanjutkan perjalanan mengarungi laut lepas menuju kepulauan Derawan yang terkenal dengan kekayaan bawah airnya.

Setelah kurang lebih satu jam, tibalah kami di salah satu pulaunya, pulau Maratua. Dari jauh saja keindahannya sudah terlihat jelas, air laut yang jernih, gradasi warna dari biru tua ke biru kehijauan yag berakhir di hamparan pasir putih dan jajaran nyiur yang memayungi garis pantainya.

Pulau indah ini hanya memiliki 2 resort yang dimiliki pengusaha Malaysia dan Jerman. Belum ada pengusaha lokal yan mencoba untuk membuka usaha disini. Sementara penduduk lokal menempati 4 kampung yang tersebar di Maratua ini. Hampir semua tamu yang terdapat di Maratua merupakan turis Eropa dan Korea. Maka tidaklah heran jika tariff yang dipasang pun dalam dolar. Untuk semalam di Maratua Paradise, tempat kami menginap, diberikan tariff 450 ribu termasuk makan tiga kali sehari. Tapi untuk menikmati fasilitas diving yang memang merupaka objek wisata utama disana , kita harus merogoh kocek sekitar 300 ribu untuk menyewa peralatan diving dan 300 ribu lagi untuk Dive Master yang akan menjadi guide kita selama diving di Maratua.

Tapi semua pengeluaran kita itu akan terbayarkan dengan harga yang pantas. Dari point Pasir di depan resort yang hanya sedalam 5-10 m, dihuni beragam biota laut, dimana kita bisa menemukan scorpion fish, crocodile fish, ikan setengah, dan banyak lagi. Puas melihat lihat di Point Pasir, kami melanjutkan ke Turtle traffic point. Dari namanya sudah terbayang biota apa yang banyak menghuni point ini. Benar sekai, turtle atau penyu hijau. Ini adalah tempat dimana mereka beristirahat, sehingga jika kita menyelam di point ini jangan terkejut bila penyu penyu ini melayang diatas, dikiri, kanan dan bawah kita.

Dari Tutle traffic point, kami melanjutkan ke pulau Kakaban. Kakaban merupakan atoll atau karang cincin yang naik ke permukaan ratusan tahun yang lalau. Hal yang unik dari pulau ini adalah terdapatnya danau yang berisi ubur ubur yang telah berevolusi selama ratusan tahun sehingga kehilangan kemampuannya memeprtahankan diri, dengan kata lain tidak menyengat. Hal ini disebabkan karena air asin yang terjebak di danau tidak mempunyai akses keluar dan sebaliknya sehingga biota yang terdapat didalamnya tidak mempunyai predator. Pada saat hujan ubur ubur yang ada naik ke permukaan sehingga danau akan terlihat penuh dengan ubur ubur tersebut. Pertama melihatnya saya ragu untuk mencoba masuk, tetapi setelah diyakinkan bahwa hal ini aman, saya pun mencoba, dan benar saja, mereka tidak menyengat.

Menjelang sore kami pun kembali ke resort. Kepulauan Derawan ini memang benar benar memiliki potensi yang tidak terbatas untuk pariwasa Indonesia. Kalimanta Timur ternyata tidak hanya dikenal dengan batubaranya saja, tetapi juga keindahan alamnya.

One Reply to “Edge of Borneo”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *