Dua Sisi Nihiwatu

Berada ditengah alam Sumba Barat yang masih asli. Siapa yang sangka di daerah bernama Nihiwatu ini terdapat satu lagi spot surfing lefthander yang di claim milik pribadi. Kalo jeli dengan kata kata ‘lagi’ yang saya pakai, itu artinya Nihiwatu bukan satu satunya tempat surfing yang di monopoli personal. Pernah dengar atau pernah tau kalau laut bisa dimiliki oleh perorangan? Saya sih nggak tau..

Hal yang nggak bisa disangkal, negara kita ini memang memiliki banyak banget potensi ombak yang bagus untuk surfing, menyaingin Hawai katanya.. makanya banyak orang luar yang mencoba untuk menggali potensinya dan berhasil. Mereka mendirikan surf camp atau resort serta menjaga keaslian tempat itu demi kelangsungan ekosistem penunjang di tempat tersebut. Ada hal positif yang didapat, seperti terjaganya lingkungan sekitar, serta tersedianya lapangan kerja yang bisa menyedot tenaga kerja lokal. Negatifnya? Seringnya kita nggak bisa masuk sembarangan dan ikut menikmati ombaknya, karena daerah itu biasanya sudah tertutup bagi tamu2 yang menginap di surf camp atau penginapan itu.

Itu juga yang terjadi waktu liputan saya ke Nihiwatu di Sumba Barat beberapa waktu lalu. Setelah sempet search di google dan you tube tentang ombak disana , saya mendapatkan spot yang bagus di Nihiwatu. Tau juga sih selentingan tentang tempat itu yang tertutup untuk orang luar, tapi saya pikir… ah masa segitunya sih.. emang laut punya siapa, toh masih bisa masuk lewat samping bareng surfer lokal..

Singkat cerita kami mendapatkan seorang guide kawakan di Waikabubak sana, Pak Charles, yang ternyata seorang tuan tanah yang cukup punya pengaruh, dan kebetulan tanah dimana Nihiwatu itu berdiri punya ayah mendiang Pak Charles yang sekarang menjadi miliknya. Wah baguslah, pikir saya, paling nggak kita bisa minta ijin untuk surfing disana.

Dengan niat menggebu gebu, malam sebelum hari syuting surfing saya bersama produser dan Pak Charles menuju ke Nihiwatu Resort dengan maksud meminta ijin. Woooww.. ternyata tidak segampang yang diduga. Tanah dimana Nihiwatu Resort dibangun sangat luas, dan dari gerbang pertama untuk sampai ke pos penjagaan sangat jauh. Itupun kami harus menunggu lama sampai yang punya tempat akhirnya mengijinkan kami masuk untuk ngobrol ngobrol.

Wah kalo gini nggak mungkin mengendap endap masuk ke pantai dari samping, pikir saya, lha wong samping nya itu jauuuuuhhhh bangeddss… memang mau ga mau ya harus masuk dari gerbang depan.

Akhirnya ketemu juga dengan pemilik resort. Setelah ngobrol ngalur ngidul akhirnya saya mengutarakan maksud untuk meminta ijin surfing di laut depan resortnya.

Dan… ditolak.

Yup, teman2.. saya ditolak nggak boleh surfing di laut Indonesia oleh orang bule.. kaget juga sih.. Alasannya sih dia bener2 ngejaga eksklusifitas dari resortnya, termasuk lautnya. Sebagian dari tamu tamunya adalah surfer, dan bukan rahasia lagi di kalangan surfer kalo kita itu udah muak sama laut yang rame.. ya saya sendiri kalo bisa pengen surfing sama temen temen ajah nggak lebih dari 10 orang.. (Makanya selalu mikir kalo disuruh pindah ke Bali hehehe.. ) Nah, si owner ini membatasi di laut hanya boleh ada 9 surfer, dan nggak ada excuse sama sekali buat orang luar yang nggak nginep disana apalagi bawa bawa media.

Justru dia menghindari publikasi. Marketnya sudah terbentuk sendiri. Itu juga saya bisa mengerti. Apalagi dia membuka Nihiwatu Resort ini dari nol. Dari masih berupa hutan dan potensinya belum terekspose keluar. Setelah mendapatkan investor dia membangun resort ini sampai bisa ke taraf hi end. Yang harus diancungi jempol juga adalah, dedikasinya untuk memajukan desa sekitarnya. Dengan program eco tourism, para tamu ikut menyumbang dan menikmati kemajuan desa, seperti tersedianya air bersih, sekolah, dan puskesmas serta tenaga medis.

Memang hal ini menjadi situasi yang serba salah.. Di satu sisi keberadaan resort ini menolong desa desa disekitarnya dan mendatangkan devisa juga, di sisi lain… masa kamu dilarang surfing di negara sendiri? Walaupun pada akhrinya ijin surfing turun juga dengan wanti wanti tidak boleh menyebutkan daerah ini secara rinci, toh akhirnya saya nggak menjadi orang lokal pertama yang surfing disana karena jadwal syuting yang super padat, dan kami harus membuang item surfing ini..

8 Replies to “Dua Sisi Nihiwatu”

  1. satu sisi kelestarian alam itu,btul jg sih pantei2 skrg yg dulunya private udah banyak dkunjungi wisatawan dan rusak pula,sisi lain jg kita ga boleh maen ma bule di tanah indonesia lg..heheee..ga bisa ngomong dehh…skrg gerilya surff aja d lokasi2 privatee..hehehehe…

  2. Privatisasi pantai? Mungkin itu pelanggaran hukum internasional. Rasanya pemerintah sudah memberi konsesi berlebihan. Terabas terus AL. (Haven'T seen you at all on TV lately. I miss your program very much.).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *