Surfing Bono

Gimana rasanya surfing berjam-jam nonstop di atas ombak? Cuma di Bono hal unik nan ajaib seperti itu bisa didapatkan.

Surfing Bono – surfing di sungai

Ini bukan kali pertama gw mengunjungi Bono, sebutan ombak sungai Kampar super panjang yang berada di provinsi Riau, tepatnya di desa Teluk Meranti.

Perjalanan ke teluk Meranti dari Pekanbaru memakan waktu sekitar 4 jam menggunakan mobil sewaan yang bisa didapatkan baik dari Pekanbaru maupun dari Teluk Meranti itu sendiri.

Teluk Meranti sendiri sudah memilki 3 sampai 4 penginapan, lumayan berkembang dari beberapa tahun lalu ketika mereka masih hanya memiliki satu penginapan saja (baca trip pertama gw disini)

Sebelum berangkat, gw memang sudah saling kontak dengan Bang Eddie yang merupakan operator lokal andalan disana. Saat kami berkunjung ini rupanya belum merupakan musim yang bagus untuk Bono, debit air yang dimiliki sungai Kampar tak cukup tinggi untuk menghasilkan ombak bertenaga.

Tips: musim yang baik untuk mengunjungi Bono adalah bulan-bulan dimana curah hujan cukup tinggi seperti di bulan oktober-maret.

Fasilitas

Biasanya surfer merupakan jenis orang-orang yang nggak rewel dan mudah dibahagiakan, Maka ketika menghadapi fasilitas serba terbatas di Desa Teluk Meranti, kami sama sekali tak keberatan.

Yang perlu diperhatikan : listrik hanya dihidupkan pada pukul 6 sore hingga 7 pagi, sehingga semua peralatan yang memerlukan batre harus dicharge penuh pada malam hari.

Kamar mandi yang disediakan merupakan kamar mandi luar dengan sumber air langsung dari sungai. Nah ini memang agak memerlukan kesiapan hati, karena warna air pun tidak jernih tapi kecoklatan akibat partikel lumpur yang ikut tercampur. Sediakan saja botol air mineral yang bisa digunakan untuk saat menyikat gigi.

Selfie sambil surfing? serahkan pada David

Surfing

David dan gw harus menyiapkan diri untuk menghadapi kemnungkinan ombak super kecil sesuai perkiraan Bang Eddie yang telah terlihat stres dari malam sebelum sesi surfing. Gimana nggak stres, kami datang bersama para media televisi dan radio yang juga diundang kemenpar. Pastinya ia ingin memberikan yang terbaik bagi kami.

Akhirnya diputuskan gw akan meminjam longboard bang Eddie, sementara David memang sudah mempersiapkan diri dengan longboardnya.

Benar saja, pagi itu kami sudah mulai sibuk menentukan posisi yang paling pas untuk menyambut Bono, ombak yang dulunya memiliki mitos cukup menyeramkan : ombak yang ditunggangi hantu.

Saat-saat menunggu menjadi saat yang cukup menegangkan. David dan saya benar-benar berharap ombak ini akan cukup besar untuk mendorong bobot tubuh kami. Bang Eddie sibuk mengarahkan kami dan memberikan wanti-wanti untuk paddle sekuat tenaga demi mendapatkan ombak awal yang cukup kecil.

Longboard menyelamatkan kami. Ombak Bono kecil ini bisa ditangkap bahkan ditunggangi cukup jauh. Saat kami terjatuh pun dengan cekatan rubber boat Bang Eddie akan menjemput, dan kembali menaruh kami di depan ombak yang bisa dikendarai.

Oya, tips lain lagi nih : jangan lupa bermain tow in, teknik berdiri diatas papan selancar dengan ditarik speed boat. Seru dan penuh tawa!

Tonton keseruan gw, David dan Pinneng di video ini :

Untuk informasi lebih lanjut, sila kontak langsung ke operator setempat Bang Eddie yang bisa diitip di Facebook dan Instagramnya.

Me, Pinneng dan Bang Eddie Bono

Suku Bajo di Wakatobi

 

Salah satu Suku laut yang bertahan hidup di atas laut, bangsa Bajo tidak mengenal perbatasan negara. Mereka berkelana berpindah-pindah menyrusuri pulau-pulau disepanjang nusantara dan negara sekitar.

Suku Bajo di Wakatobi

Matahari bersinar cerah saat pagi itu saya melaju membelah laut Wakatobi menuju pulau Hoga, pulau dimana terdapat kampung Bajo yang masih meneruskan cara hidup para pendahulunya : membangun rumah diatas laut dan hidup sebagai nelayan.

Pulau Hoga sendiri dapat dicapai … jam menggunakan kapal kayu dari Wakatobi. Daerah di selatan Sulawesi ini memang merupakan salah satu area penyebaran bangsa Bajo. Selain Sulawesi selatan mereka juga bisa ditemukan di area Kepulauan Riau, Batam, semenanjung Malaysia, utara Sulawesi hingga Philipine.

Sea gypsy, merupakan salah satu julukan yang diberikan bagi mereka. Pada awalnya, kebiasaannya berpindah tempat hanya menggunakan perahu kayu dengan memboyong seluruh keluarganya mengakibatkan mereka tak mengernal batas negara. Sehingga bangsa Bajo di Indonesia, malaysia dan Philipine dapat saling mengerti saat berkomunikasi dengan bahasa Bajo.

Saya sendiri pernah bertemu dengan orang Bajo yang masih selalu berpindah tempat dan hidup di perahu kecil mereka di Batam. Sayag saat itu saya belum membuat video. Masih jelas di ingatan saya keluarga bajo yang saya temui itu, sangat sulit untuk didekati. Mereka tak terlalu terbuka terhadap orang luar.

Kampung Bajo

Kampung Bajo di Hoga dibangun diatas laut, maksudnya benar-benar di atas laut. Rumah-rumah panggung dari kayu bertebaran di sepanjang pesisir. Terdapat teras yang cukup luas di depan masing-masing rumah.

Kadang mereka menaruh kursi juga untuk temapt bersantai, tapi kebanyakan teras rumah mereka tergantung jala yang digunakan untuk mencari nafkah. Beberapa bapak tampak membuka jala mereka dan membenarkan kerusakan yang ada.

Masing-masing rumah terhubung satu sama lainnya dengan jembatan yang tak terlalu lebar, hanya cukup dilalui oleh dua orang saat berpapasan.

Perahu-perahu kayu tampak hilir mudik di bawah jembatan-jembatan ini. Semua warga Bajo, termasuk para ibu dan anak-anak memang piawai mendayug perahu dan mempergunakan perahu kecil ini sebagai alat transportasi utama.

Batu pondasi tiap rumah dimana tiang-tiang terpancang adalah karang-karang laut yang berada di sekitar perkampungan mereka. Banyak yang berpendapat mereka merusak lingkungan dengan melakukannya.

Tapi menurut saya sih, apa yang mereka lakukan hanya menyumbang persentase yang sangat kecil pada kerusakan lingkukangn jika dibandingakan kerusakan parah yang diakibatkan bom ikan dan juga sampah-sampah yang dibuang ke laut.

Ibaratnya, sama seperti perburuan paus yang dilakukan masyarakat Lamalera, dibandingkan dengan perburuan besar-besaran yang dilakukan oleh kapal nelayan besar yang berasal dari negara lain, menangkapi paus dan hiu tanpa mengindahkan lambatnya populasi mereka bertambah.

Makanan masyarakat bajo

Tentunya nasi menjadi bahan pangan yang sulit didapatkan. Tak selalu mudah menyuguhkan nasi untuk menjadi makanan pokok. Maka mereka membuat Swami sebgai asupan karbohidrat, dan dimakan bersama lauk-pauk.

Kasuami terbuat dari singkong dan diolah dengan cara dihancurkan sebeloum dibentuk menjadi kerucut-kerucut. Biasanya dicampiur pula dengan bawang untuk memberikan rasa gurih,

Anak-anak Bajo

Sejak lahir mereka telah dikenalkan pada air laut, tempat bermain mereka. Bayi-bayi ini akan dicelupkan oleh orang tua mereka, maka tak heran, kemampuan berenang mereka hanya bisa disaingi oleh ikan.

Saking bergantungnya pada air laut, acara ‘hang out’ sore mereka setelah memakai bedak dan mandi sore pun tetap bersampan keliling kampung, dan terkadang acara jatuh dari sampan kembali ke laut menjadi selingan yang menyenangkan.

Diatas ini adalah  video saat saya berkunjung ke suku Bajo di Wakatobi.

Buat kalian yang ingin menyaksikanlangsung keunikan orang-orang suku Bajo ini, tak ada salahnya mengunjungi perkampungan mereka, dan menikmati swami sebari bernaim-main dengan anak-anak Bajo.

 

Wet Traveler – Simpati #GoDiscover Surfing Lhoknga – Aceh

Surfing_Aceh

Aceh -the most west province of Indonesia- offers so many interesting things for adventure, including surfing.

Untuk yang sudah pernah baca di blog gw tentang surfing Aceh ini sekarang bisa lihat versi visualnya.

The surfing spots spread in some areas in Aceh, and Lhoknga is one of them. Located not too far from Banda Aceh (only 30 minutes driving) makes it easy to reach.

English subtitle available.

Wet Traveler – A Story that born from faith

“Apa impian kamu yang belum tercapai?”

“Hmmm… pengen punya program sendiri.”

Pasti itu jawabanku.

Mungkin sudah 4, atau 5 tahun.. ah aku lupa tepatnya. Tapi aku tahu kalau dari dulu pengen banget punya prgram traveling sendiri. Program yang mulai dari konsep, konten sampai semuanya dibikin sendiri. Bukannya nggak suka dengan program televisi yang waktu itu dijalani, tetep bersyukur bisa dapat pekerjaan nggak dibelakan meja hehe.. Banyak pelajaran yang didapat dari sekian tahun bergabung sebagai host. Tapi tetap keinginan untuk membuat program sendiri itu nggak pernah benar-benar hilang. Malah makin kuat.

Tapi aku nggak tahu bagaimana caranya.

Semua berlanjut hingga 2014. Kontrak dengan Trekker berakhir dan program tidak diproduksi kembali. Sementara itu, undangan untuk traveling terus berdatangan. Undangan untuk menuliskan pengalaman. Kali ini aku lepas dari ikatan tv.  Dan hei… beda banget rasanya traveling saat suting untuk program tv dan traveling tanpa dikejar-kejar kamera dan disuruh mikirin kalimat yang harus diucapkan saat oncam. Semua terasa mengalir. Aku jadi memperhatikan detil. Aku jadi lebih ‘merasakan’.. hmm sepertinya ini yang harus ditunjukkan.. rasa, dan bukan hanya sekedar fakta.

Akhirnya kami membuat satu konsep. Aku dan partnerku, Pinneng, dengan bantuan Motulz, membuat satu konsep untuk membuat satu acara traveling. Acara yang bisa ditonton DIMANA SAJA dan KAPAN SAJA. Lahirlah webseries WET TRAVELER.

Karena keinginan yang kuat, tanpa didukung modal besar, akhirnya memaksa kami memproduksi semuanya sendiri. Riset, membuat jalan cerita, proses syuting di lapangan, hosting (well, kita nggak ada yang bicara ke kamera sih sebenarnya hehehe), hingga post production. Hingga akhirnya kami jalan bareng simPATI

Hasilnya? seperti yang bisa kamu saksikan ini 🙂

On The Show RTV

Talkshow at RTV with guest stars Nadine Chandrawinata, Ramon Y Tungka and Gemala Hanfiah. Hosted by  Omesh.

Surfing Balian-Bali VLOG

Surfing Bali offers so many spots, and if you love the uncrowded wave, Balian is perfect for you. Only two hours from Kuta to the west, Balian is good for relaxing, yoga, trekking or any outdoor activities.