Bubu Seksi

pi by William Tan
pic by William Tan

“Belum diving di Alor kalau belum liat Bubu, trus potoan ama Bubu..”

“If you diving in Alor, Bubu is amust to see.. and also take picture with it.”

Sampai segitunya ke-beken-an sang Bubu yang memang banyak dijumpai di Alor, Nusa Tenggara Timur. Benda bundar yang dijalin dari rotan ini akirnya berubah fungsi di mata para diver, tempat foto-foto dan juga objek foto unik khas daerah Timur Indonesia.

Bubu is very famous and easy to find in Alor, Nusa Tenggara Timur. This round object made by rattan, has another function for divers. An object to get captured with also favorite object for photographers.

Apalagi dibarengi dengan air super bening bin visibility mantap yang merupakan hal standar yang biasa aja di Alor, karena sepanjang tahun ya begitu itu kondisinya. Bubu sendiri merupakan traditional fishtrap yang telah digunakan masyarakat Alor sejak dulu. Lubang kecil di tengahnya, memungkinkan seekor ikan karang untuk menyelinap masuk dengan manjanya, tapi ruang luas di dalamnya membuat sang ikan tersebut susah menemukan lubang keluar yang sempit tersebut. Jadilah mereka hanya berenang berputar-putar di dalam Bubu sampai seorang nelayan mengangkatnya.

The super clear water with high visibility in Alor is a normal. All year. Bubu is a traditional fishtrap that had been used for years by Alor people. The small hole in the middle let fishes slip easily, but the big room inside makes them swim around and hard to find the way out.

Terletak di kedalaman yang berbeda-beda dari yang cuma 5 meter hingga 20 an meter memungkinan mereka memanen ikan yang berbeda-beda sesuai selera. Tapi nih yaa, kerennya para nelayan tersebut hanya mengambil ikan sesuai kebutuhan mereka saja. Kalau lebih atau ada ikan yang tidak akan dikonsusmi? Mereka dilepas kembali ke laut. Salut!

Located in some different depth from 5 to 20’s meter, makes the fishermans can catch a various kind of reef fish that suit to their need. How about if they catch too much or get something that they can’t e at? The released it back to the ocean.

Hal ini juga yang membuat Alor tetap terjaga keasriannya selama bertahun-tahun. Kalian diving disini hari ini atau sepuluh tahun yang lalu, kondisinya sama-sama bagus karena semua masyaraktnya menyadari pentignya mereka menjaga terumbu karang yang merupakan rumah para ikan. Jadi mencari ikan tidak perlu jauh-jauh, Kakaaak.. di depan rumah sa 😀

It also makes Alor can keep it sustainability for years. You dive here now or ten years before, the condition is not change. Alor people realize that they need to keep the coral reef in good condition, and this make them easy to catch fishes.

Tapi bukan berarti kita para turis diver boleh seenaknya ngutak-ngutik Bubu dan karang disekitar mereka yaaa. Yang punya hak istimewa itu hanyalah para warga lokal yang berkepentingan. Kita? Nikmati dan manjakanlah mata kita dengan Bubu yang keren dan seksi kalau difoto itu.

Doesn’t mean we, the tourist, can touch or replacs the Bubu and reefs besides it. Let it become local people’s privilege. Our job is only to enjoy and indulge our eyes with the beauty and uniqueness of the Bubu.

Seorang bapak yang setelah mengajar pada pagi harinya, memanen hasil Bubu untuk makan keluarganya. Pic by Pinneng.
Seorang bapak yang setelah mengajar pada pagi harinya, memanen hasil Bubu untuk makan keluarganya. Pic by Pinneng.
bubu_2
Pose disamping Bubu is a must! pic by Dewi Wilaisono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *