Bromo – Horse Riding

bromo_mountain

Gw pernah nabrak sebuah delman ketika menunggangi ‘kuda kacang’ di depan Institu Teknologi Bandung yang memang terkenal sebagai lokasi wahana menunggang kuda saat itu. Sekarang masih nggak sih?

Malu? Nanti dulu. Ceritanya masih panjang.

Setelah selamat dari tukang delman yang ngomel-ngomel karena delmannya gw trabrak, berikutnya giliran pohon. Nah lo. Entah bagaimana ceritanya kenapa kuda gw tertarik banget menuju sebatang pohon besar nan kekar di pojokan itu. (Masa iya dia nggak ngeliat pohon itu?)

Kejadian selanjutnya sebelas duabelas dengan adegan inspektur polisi di film india yang tembak-tembakan sambil melayang kesana-kemari, cuma ini bedanya gw melayang turun dengan gagahnya sebelum kuda itu menabrak pohon. Yeah, I’m fell sorry about the horse. Pasti dia pusing.

Begitulah, selama bertahun-tahun sejak keil gw emang ngefans banget sama yang namanya kuda. Keren aja kesannya. Sampai sekarang. Makanya ketika ada kesempata ke Bromo kemarin, hal pertama yang bikin gw semangat ya kudanya. Kok ke Bromo malah nyari kuda? Nah ini menariknya.

Sebelum kita masuk ke sesi kuda, terlebih dahulu proses yang harus dilewati adalah menyaksikan matahari terbit, dengan tiga serangkai gunung Bromo, Semeru dan Batok sebagai model nun jauh disana. Namun saat itu gw kurang beruntung. Yang tadinya berharap menyaksikan semburat –semburat keemasan merayapi punggung ketiga gunung itu, namun karena kabut merajalela akhirnya hanya bisa melihat hamparan kabut putih yang semakin tebal. Padahal sudah bela-belain bangun jam 2 subuh serta berjalan cukup jauh untuk mencapai puncak bukit tempat kita semua menyaksikan matahari terbit. Tapi kalau cuaca sedang cerah, pastinya foto-foto yang didapat bakal super keren.

Gw diantara orang-orang yang nungguin sunrise dan kedinginan
Gw diantara orang-orang yang nungguin sunrise dan kedinginan
Bromo dari kejauhan setelah kabutnya hilang
Bromo dari kejauhan setelah kabutnya hilang
bromo_mount_photo
Mei, salah satu food blogger dari Singapore dan Elsa dari kementrian

Setelah itu barulah gw bisa berlega hati karena sekarang giliran berkuda! Ketika mobil-mobil kami parkir di lautan pasir yang berlokasi di kaki gunung Bromo, beberapa kuda (tentu dituntun pemiliknya) langsung berdatangan berharap ditunggai segera. Gw mencari-cari yang tampilannya nggak terlalu mini, supaya kalau difoto nanti nggak terlihat seperti menunggang kuda mainan.

berasa gagah pisan
berasa gagah pisan

Mereka membebaskan kita memilih apakah mau dituntun atau berlari sendiri. Berdasarkan pengalaman menabrak pohon itu, gw memilih untuk dituntun manis, sembari sibuk merekam dan selfie dari berbagai posisi.

Perjalanan tidak jauh ( sayang banget, gw belum puas soalnya), dan tibalah kami di kaki tangga yang akan membawa kami ke puncak gunung bromo. Terlihat antrian panjang untuk mendaki dan menuruni tangga. Semua bersemangat untuk melihat kawah yang fenomenal itu.

Ternyata memang tidak sia-sia, apa yang gw liat dari atas memang breathtaking banget! Selanjutnya rasanya lebih pas dinikmati lewat foto-foto yaaa..

Antrian orang-orang yang akan naik dan turun Bromo
Antrian orang-orang yang akan naik dan turun Bromo
Pemandangan ke arah Batok dari puncak Bromo
Pemandangan ke arah Batok dari puncak Bromo
Cabe montok di Bromo yang sexy
Cabe montok di Bromo yang sexy

Graphic1Big thanks to Tourism Ministry of Indonesia

DARE to do your adventure in amazing Island?
Explore the EXOTIC beauty of nature and dive in mesmerizing blue sea?
Witness the RARE animal you couldn’t see in other part of the world?

Join the contest to Komodo Island and get extra pocket money!

click here for more info

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *