Boti, keunikan suku asli Timor

Desa adat yang terletak di Timor Tengah Selatan itu namanya saja sudah terdengar unik dan eksotis, ditambah pula dengan perjalanan yang cukup menyita tenaga karena aksesnya yang bisa dikatakan rusak, Desa Boti, desa adat yang masih memegang teguh adat istiadatnya serta masih menjaga cara hidup yang sama seperti leluhur mereka layaknya suku Badui dalam.
  Jalan memang jelek sekali, Ibu.. bahkan kemarin waktu banyak hujan tidak bisa lewat. Bisa tapi susah sekali, lumpur..” Oom Nope guide kami yang keturunan raja itu menjelaskan sembari terbanting ke kiri dan kanan mengikuti gerakan mobil sewaan kami. Jalan kering saja sudah terasa heboh, gimana kalau hujan turun ya? Tapi pemandangannya luar biasa indah. Alam timor memang beda.
Tidak terlalu jauh sebenarnya jarak antara So’E, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan atau yang sering disingkat dengan TTS, dan desa Boti. Hanya sekitar 45 km saja. Hanya saja karena parahnya kondisi jalan, kami harus rela terombang ambing selama kurang lebih 2,5 jam.
“ Ganti celana panjang lebih baik, Ibu.” Ah rupannya saya harus merelakan celana pendek ini berganti panjang untuk menghormati desa itu. Saat istirahat sebelum memasuki desa Boti pun kami manfaatkan untuk meluruskan kaki dan pinggang, serta saya yang berganti celana. Rasa pegal dan lelah kalah oleh rasa penasaran. Akan seperti apa sih orang-orang suku Boti itu nanti?
“ Nanti  biar supirnya yang kasih sirih pinang  tanda pamit memasuki desa, dia sudah biasa, dan memang semua tamu harus kasih sirih ke kepala suku.”
“ Kita juga harus makan sirihnya?” tanya saya ngeri mengingat saya nggak suka sama sekali rasa sepet dari sirih setelah mencobanya waktu itu di Sumba. “ Nggak harus kok, cuma kepala sukunya saja nanti sama tetua kampung yang mau bergabung. Tamu tidak dipaksa untuk nyirih.” Fiuuuh…

kepala suku dan tetua desa di rumah dinas 

Beberapa artikel yang saya baca ketika merencanakan trip ini mengatakan bahwa tamu mempunyai tempat menginap sendiri, ada kamar mandinya, tapi makanan akan sangat tidak enak menurut standar orang kota yang terbiasa makan makanan berbumbu, karena masakan suku Boti cenderung hambar dengan tidak digunakannya minyak untuk menggoreng, serta terbatasnya garam. Semua serba rebus-rebusan. Hmmm kami sempat belanja mie instant sih untuk mengantisipasi hal itu. Judulnya : takut kelaparan hahahahaha.
Suku Boti ini merukapan salah satu suku dari 3 kerajaan yang kala itu menguasai TTS, Amanatun, Amanuban dan Molo, pemimpin di Boti bukanlah raja, melainkan kepala suku. Oya.. dan dari blog yang pernah saya baca juga, doski masih single loooh ( bantu promoin kepala suku Boti ).
Akhirnya sampai juga Suasana desa Boti ini asri banget. Jalan-jalan setapak dibuat rapi dengan susunan batu-batu besar dan kecil. Rumah berdinding bebak langsung terlihat di depan gerbang masuk, Itulah penginapan kami. Kamar mandinya terpisah tapi ada beberapa, jadi nggak perlu antri mandi. Airnya pasti dingiiiiiinn..
Beberapa ritual harus kami lewati sebelum blusukan di kampung Boti. Kepala suku dan beberapa tetua adat menyambut kami di ‘rumah dinas’. Karena mereka tidak lancar berbahasa Indonesia, dan kami boro-boro pernah dengar bahasa Dawan yang digunakan suku Boti, jadilah acara penerimanaan tamu berlangsung canggung untuk kami. Paling saling cengar cengir saja. Untung kepala suku tetap menerima sirih pinang kami dan sibuk meramunya dengan kapur yang membuat bibirnya bagaikan begincu seksi. Tadinya saya sudah kawatir saja harus ikut-ikutan begincu, ternyata untuk kami disediakan pisang goreng… iya digoreng!! Wah rupanya mereka pake minyak juga untuk mengolah makanan yang disediakan untuk tamu.
Hari sudah malam, jadi acara blusukan dibatalkan, jangan-jangan malah nyasar ke sungai pulak kalau nekad. Jadilah kami mengambil kamar-kamat yang tersedia di rumah bebak. Nggak ada lampu, apalagi tv. Acara malam itu nyemil dan gossip seputar si kepala suku yang curang karena ada listrik di rumahnya, sirik nih yeeeee 😀
Bermalam di rumah bebak ternyata dingin karena ada aja celah-celah tempat udara malam bebas keluar masuk. Kampung Boti memang cukup dingin kalau malam, apalagi selama musim kering Juli-Agustus. Baju hangat wajib dibawa deh.
Paginya sarapan sudah tersedia di rumah raja. Rupanya kekawatiran kami akan makan sama sekali tidak beralasan. Makan 3 kali sehari mereka sediakan, menunya juga enak, dengan jagung bose sebagai makanan pokok pengganti nasi… eh nasi juga ada sih, tapi mumpung disini sikat jagung bose ajalah. Lanjut melihat proses pengolahan kapas hingga menjadi kain tenun mereka. Hebat looh, saking mandirinya mereka semua kebutuhan diproduksi sendiri, pangan, papan… termasuk sandang. Mereka punya kebun kapas sendiri. Salut!!

sok sok ikutan gabung belajar proses pengolahan kapas

Memproses kapas hingga menjadi sebuah kain yang indah merupakan syarat mutlak bagi gadis Boti yang harus dikuasai sebelum menikah.
“ Kami harus bisa menenun sebelum menikah kak..”
“ Kalau sudah menikah tidak boleh minta sama orang tua.” Salah satu gadis Boti yang sedang menenun meberikan penjelasan.
Pasangan muda Boti harus bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa dibantu orang tua apalagi tetangga saat mereka menikah nanti. Dengan menguasai tenun diharapkan ia dapat memenuhi kebutuhan sandang keluarganya. Bahkan seperti ada ujiannya loh, ia harus menenun dua buah selimut dan sebuah kain untuk keluarga pria sebelum lulus seleksi. Wah saya pasti gagal total ini sih…
Dari pihak laki-laki juga bukannya ongkang-ongkang kaki. Si pria sudah harus membangun rumah bulat, rumah adat mereka dan mengolah sepetak ladang, yang menjamin mereka nggak akan terlantar tidur dibawah pohon atau nggak bisa makan. Seru yaaa, jadi nggak ada tuh ceritanya  ngutang-ngutang dulu buat nikah, pinjam sana sini buat ribet orang lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sangat bertanggung jawab.

ini yang namanya rumah bulat, tapi kita nggak boleh masuk 🙁

Urusan hukum juga unik banget disini. Layaknya suku Badui dalam, mereka nggak boleh melanggar aturan adat, termasuk memeluk kepercayaan Halaik. Beberapa kasus penyelesaian hukumnya sangat beda, contohnya jika ada yang ketahuan mencuri jagung tetangga, hukumannya adalah seluruh desa memberikan jagung kepada orang itu. Iya… dikasih! Tujuanya agar ia malu sekaligus agar ia memiliki jagung yang bisa ditanam untuk berkebun sehingga tidak perlu mencuri lagi. Luar biasa… Itu kalo urat malunya masih ada, kan diluar banyak yang dah putus urat malunya *curcol 😀
Mereka tu ngehargain alam banget, contohnya waktu disuruh sama produser program untuk kembali memotong sebilah bamboo utuh dari pohonnya, ia keberatan dengan alasan, sayang bambunya karena kebutuhannya tidak sebanyak itu, biarlah bamboo itu tumbuh, kita pakai bamboo yang sudah ada di tanah saja.. Keren euuuuy.

Ketika akan berpamitan pun, kami kembali lapor ke ‘rumah dinas’, dan kepala suku memberikan syal tenunan sebagai tanda persahabatan. Kalau boleh dikatakan, saya terharu saat itu. Mereka baik banget!! Nggak ada artinya deh keribetan perjalanan menuju ke desa ini dibanding pengalaman yang didapat.

nyante sambil main Knobe, alat musik getar

10 Replies to “Boti, keunikan suku asli Timor”

  1. kayanya lebih mudah.. sekaligus lebih “abu2” tapi yang jelas mau orang desa ato orang kota, sebaiknya udah bisa mandiri pas nikah, yang penting nggak ngerepotin orang lain, gaya hidup kita bener2 tergantung uang, yaaaa… harus bisa menghasilkan uang sendiri dooong :)))) jangan ngutang molooooo #jleb hahahaha

  2. nginepnya murah kok, mereka seikhlasnya aja.. sepantasnya saja, tidak mematok harga. Yang rada mahal itu justru menyewa mobil 4×4 dan guidenya yang mejadi perantara disana. sewa mbil sekitar 1 juta tegantung jenisnya, dan guide sekitar 500rb , beda-beda sih nggak ada patokan juga

  3. entah mengapa.. ada rasa agak enggak rela mba kalau terlalu banyak tempat dan budaya yang super keren, indah dan santun di Indonesia masuk ke dunia maya atau tv. enggak rela banget deh ntar abis dapet info ttg tempat itu orang-orang 'kota' berbondong-bondong (termasuk gw, wkwkwk) pada kesana, yang dalam jangka panjang ngerubah sistem budaya yang ketat demi kebaikan suku jadi agak longgar atas nama “pariwisata”

    aduh, jadi sentimentil gini. mudah-mudahan akunya ajasih mba yang terlalu lebay mikirnya :p
    keep posting mba krupskaya kece 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *