Batik Tanah Liek

“Biasanya kain atau baju itu dihindari banget dari kotoran.. Lah ini malah direndam air larutan tanah liat”

inilah komentar yang pasti muncul melihat pembuatan batik tanah liat ibu Wirda Hanim ini, mulai usaha batiknya dari 1994 karena tergerak menyaksikan batik lusuh yg dipakai pada salah satu upacara adat. Muncul asumsi bahwa batik tersebut tidak lagi dirpoduksi, sampai2 batik lusuh pun tetap digunakan. Dari situ ibu Wirda manapaki sejarah pembuatan batik tanah liat.

Masuk ke tanah Minangkabau melalui jalur perdagangan Cina pada abad ke 16, batik ini mempunyai motif yang unik dengan desain khas tionghoa seperti gambar burung hong atau naga. Sayangnya sejak jaman penjajahan Jepang, produksinya terhenti dan tidak ada lagi batik tanah liat. Hingga ibu Wirda kembali menghidupkannya.

Warna coklat dari tanah memberikan efek klasik, tutur ibu Wirda. Proses berikutnya setelah di rendam larutan air tanah liat selama 3-4 hari merupakan proses pembuatan batik pada umumnya. Dilukis dan dicanting. Pewarnaan yang dilakukan menggunakan bahan pewarna alami sepwrti buah Gambir, kulit rambutan, cengkeh, kulit jengkol, padi.

Batik tanah liat yang telah jadi memiliki gradasi warna coklat yang beragam dan memang jadi berkesan klasik karenanya. Saat sekarang ada tiga sentra pembuatan batik tanah liat di Propinsi Sumatera Barat, yakni di Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan dan di Kabupaten Dharmasraya. Masing-masing sentra ini menampilkan corak tersendiri berdasarkan lingkungan masing-masing, bahkan di Dharmasraya mereka mengembangkan motif baru, bunga sawit.

dimasak dulu pake tanah 🙂
kainnya jadi berefek klasik

6 Replies to “Batik Tanah Liek”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *