Bangsa Bajo

Setelah sekian lama saya harus menjawab ‘belum’  pada setiap pertanyaan ‘sudah pernah ke Wakatobi?’ akhirnya bisa menjawab ‘sudah!’

Dengan harapan tinggi, ditambah rasa bahagia karena boleh bercokol di kokpit sambil sedikit ngobrol dengan pilot walaupun hanya 30 menit karena saya terbang dari Baubau, sampailah saya di Wangi Wangi, salah satu pulau dari empat pulau yang terdapat di Wakatobi.

Tujuan utama kampung Bajo asli yang bernama kampung Mola, lebih besar dari yang saya duga, dan ternyata… jauh lebih kotor dari perkiraan. Dalam benak saya yang namanya sudah semashyur Wakatobi itu seharusnya paling nggak seperti Gili Trawangan atau Derawan.

Kebiasaan membuang sampah ke laut  yang dulunya nggak masalah karena plastik belum diproduksi, sampah pun organik, menjadi kebiasaan yang mengganggu sekarang.
Suku Bajo sendiri merupakan suku laut pada dasarnya. Mereka pernah dicoba untuk dibuatkan pemukiman di darat, tapi masalah utama yang timbul lebih pada masalah kesehatan seperti gatal gatal yang hanya sembuh jika mereka kembali mandi air laut secara teratur.

Seorang bayi Bajo sudah dicupkan ke laut saat berumur 7 hari, dan sepanjang hidupnya mereka akan selalu dekat dengan laut. Kalau ditanya kenapa, jawabannya standar ‘sudah begitu dari jaman nenek moyang kami’.

Yang paling membuat takjub saya sih mereka mandipun cukup hanya dibilas air laut, air tawar  untuk muka aja. Kalo diliat sih sistem air flow rumah mereka udah paling benar deh, ventilasinya dari bawah, atas dan samping kiri kanan, kita bisa melihat air laut lewat sela sela bambu di lantai rumah dan langit di beberapa  lubang di atap rumah.

Bahkan mereka memelihara kucing juga dirumahnya, salah satunya bernama Reno, si kucing Bajo, yang dari kecil dipelihara oleh tuannya. Mungkin perasaan saya aja tapi rasanya sering juga melihat Reno menatap nanar keluar rumah, yang pasti dia nggak akan ada niat untuk berenang renang dilaut..

Urusan kuliner nggak mengecewakan, favorit saya Kasuami, pengganti nasi yang terbuat dari ubi yang dihaluskan, ada yang polos dan ada juga yang dicampur bawang, bisa bertahan sampai tiga hari sehingga sering dibawa sebagai bekal melaut. 

Minumannya, Saraba, terbuat dari campuran jahe, susu dan gula, hangat dan menyegarkan. Tambah tiga kalipun nggak berasa…
Transportasi utama adalah sampan kayu super ramping yang hanya terlihat beberapa senti saja diatas permukaan laut. Mulai dari anak kecil, pria dan wanita, semua bisa jadi atlit dayung. Mereka bisa mendayung  lurus dan kencang, hanya dengan satu tangan!

Bangsa Bajo, ya.. Bangsa, karena mereka tersebar di beberapa  negara seperti Malaysia, Philipina (negara asalnya) , Indonesia, bahkan Australia. Berbicara dalam bahasa yang sama hanya dengan aksen yang berbeda. Bangsa yang tidak dibatasi oleh batas negara modern, bangsa yang akan selalu hidup di laut.

One Reply to “Bangsa Bajo”

  1. nice adventure .. mala, by deway, yang nyengir keliatan gigi tru s pipinya putih, kayaknya tuh bukan penduduk bangsa bajo deh… lebih mirip buaya ijo …
    setuju gak ? 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *