Surfing Bono

Gimana rasanya surfing berjam-jam nonstop di atas ombak? Cuma di Bono hal unik nan ajaib seperti itu bisa didapatkan.

Surfing Bono – surfing di sungai

Ini bukan kali pertama gw mengunjungi Bono, sebutan ombak sungai Kampar super panjang yang berada di provinsi Riau, tepatnya di desa Teluk Meranti.

Perjalanan ke teluk Meranti dari Pekanbaru memakan waktu sekitar 4 jam menggunakan mobil sewaan yang bisa didapatkan baik dari Pekanbaru maupun dari Teluk Meranti itu sendiri.

Teluk Meranti sendiri sudah memilki 3 sampai 4 penginapan, lumayan berkembang dari beberapa tahun lalu ketika mereka masih hanya memiliki satu penginapan saja (baca trip pertama gw disini)

Sebelum berangkat, gw memang sudah saling kontak dengan Bang Eddie yang merupakan operator lokal andalan disana. Saat kami berkunjung ini rupanya belum merupakan musim yang bagus untuk Bono, debit air yang dimiliki sungai Kampar tak cukup tinggi untuk menghasilkan ombak bertenaga.

Tips: musim yang baik untuk mengunjungi Bono adalah bulan-bulan dimana curah hujan cukup tinggi seperti di bulan oktober-maret.

Fasilitas

Biasanya surfer merupakan jenis orang-orang yang nggak rewel dan mudah dibahagiakan, Maka ketika menghadapi fasilitas serba terbatas di Desa Teluk Meranti, kami sama sekali tak keberatan.

Yang perlu diperhatikan : listrik hanya dihidupkan pada pukul 6 sore hingga 7 pagi, sehingga semua peralatan yang memerlukan batre harus dicharge penuh pada malam hari.

Kamar mandi yang disediakan merupakan kamar mandi luar dengan sumber air langsung dari sungai. Nah ini memang agak memerlukan kesiapan hati, karena warna air pun tidak jernih tapi kecoklatan akibat partikel lumpur yang ikut tercampur. Sediakan saja botol air mineral yang bisa digunakan untuk saat menyikat gigi.

Selfie sambil surfing? serahkan pada David

Surfing

David dan gw harus menyiapkan diri untuk menghadapi kemnungkinan ombak super kecil sesuai perkiraan Bang Eddie yang telah terlihat stres dari malam sebelum sesi surfing. Gimana nggak stres, kami datang bersama para media televisi dan radio yang juga diundang kemenpar. Pastinya ia ingin memberikan yang terbaik bagi kami.

Akhirnya diputuskan gw akan meminjam longboard bang Eddie, sementara David memang sudah mempersiapkan diri dengan longboardnya.

Benar saja, pagi itu kami sudah mulai sibuk menentukan posisi yang paling pas untuk menyambut Bono, ombak yang dulunya memiliki mitos cukup menyeramkan : ombak yang ditunggangi hantu.

Saat-saat menunggu menjadi saat yang cukup menegangkan. David dan saya benar-benar berharap ombak ini akan cukup besar untuk mendorong bobot tubuh kami. Bang Eddie sibuk mengarahkan kami dan memberikan wanti-wanti untuk paddle sekuat tenaga demi mendapatkan ombak awal yang cukup kecil.

Longboard menyelamatkan kami. Ombak Bono kecil ini bisa ditangkap bahkan ditunggangi cukup jauh. Saat kami terjatuh pun dengan cekatan rubber boat Bang Eddie akan menjemput, dan kembali menaruh kami di depan ombak yang bisa dikendarai.

Oya, tips lain lagi nih : jangan lupa bermain tow in, teknik berdiri diatas papan selancar dengan ditarik speed boat. Seru dan penuh tawa!

Tonton keseruan gw, David dan Pinneng di video ini :

Untuk informasi lebih lanjut, sila kontak langsung ke operator setempat Bang Eddie yang bisa diitip di Facebook dan Instagramnya.

Me, Pinneng dan Bang Eddie Bono

Suku Bajo di Wakatobi

 

Salah satu Suku laut yang bertahan hidup di atas laut, bangsa Bajo tidak mengenal perbatasan negara. Mereka berkelana berpindah-pindah menyrusuri pulau-pulau disepanjang nusantara dan negara sekitar.

Suku Bajo di Wakatobi

Matahari bersinar cerah saat pagi itu saya melaju membelah laut Wakatobi menuju pulau Hoga, pulau dimana terdapat kampung Bajo yang masih meneruskan cara hidup para pendahulunya : membangun rumah diatas laut dan hidup sebagai nelayan.

Pulau Hoga sendiri dapat dicapai … jam menggunakan kapal kayu dari Wakatobi. Daerah di selatan Sulawesi ini memang merupakan salah satu area penyebaran bangsa Bajo. Selain Sulawesi selatan mereka juga bisa ditemukan di area Kepulauan Riau, Batam, semenanjung Malaysia, utara Sulawesi hingga Philipine.

Sea gypsy, merupakan salah satu julukan yang diberikan bagi mereka. Pada awalnya, kebiasaannya berpindah tempat hanya menggunakan perahu kayu dengan memboyong seluruh keluarganya mengakibatkan mereka tak mengernal batas negara. Sehingga bangsa Bajo di Indonesia, malaysia dan Philipine dapat saling mengerti saat berkomunikasi dengan bahasa Bajo.

Saya sendiri pernah bertemu dengan orang Bajo yang masih selalu berpindah tempat dan hidup di perahu kecil mereka di Batam. Sayag saat itu saya belum membuat video. Masih jelas di ingatan saya keluarga bajo yang saya temui itu, sangat sulit untuk didekati. Mereka tak terlalu terbuka terhadap orang luar.

Kampung Bajo

Kampung Bajo di Hoga dibangun diatas laut, maksudnya benar-benar di atas laut. Rumah-rumah panggung dari kayu bertebaran di sepanjang pesisir. Terdapat teras yang cukup luas di depan masing-masing rumah.

Kadang mereka menaruh kursi juga untuk temapt bersantai, tapi kebanyakan teras rumah mereka tergantung jala yang digunakan untuk mencari nafkah. Beberapa bapak tampak membuka jala mereka dan membenarkan kerusakan yang ada.

Masing-masing rumah terhubung satu sama lainnya dengan jembatan yang tak terlalu lebar, hanya cukup dilalui oleh dua orang saat berpapasan.

Perahu-perahu kayu tampak hilir mudik di bawah jembatan-jembatan ini. Semua warga Bajo, termasuk para ibu dan anak-anak memang piawai mendayug perahu dan mempergunakan perahu kecil ini sebagai alat transportasi utama.

Batu pondasi tiap rumah dimana tiang-tiang terpancang adalah karang-karang laut yang berada di sekitar perkampungan mereka. Banyak yang berpendapat mereka merusak lingkungan dengan melakukannya.

Tapi menurut saya sih, apa yang mereka lakukan hanya menyumbang persentase yang sangat kecil pada kerusakan lingkukangn jika dibandingakan kerusakan parah yang diakibatkan bom ikan dan juga sampah-sampah yang dibuang ke laut.

Ibaratnya, sama seperti perburuan paus yang dilakukan masyarakat Lamalera, dibandingkan dengan perburuan besar-besaran yang dilakukan oleh kapal nelayan besar yang berasal dari negara lain, menangkapi paus dan hiu tanpa mengindahkan lambatnya populasi mereka bertambah.

Makanan masyarakat bajo

Tentunya nasi menjadi bahan pangan yang sulit didapatkan. Tak selalu mudah menyuguhkan nasi untuk menjadi makanan pokok. Maka mereka membuat Swami sebgai asupan karbohidrat, dan dimakan bersama lauk-pauk.

Kasuami terbuat dari singkong dan diolah dengan cara dihancurkan sebeloum dibentuk menjadi kerucut-kerucut. Biasanya dicampiur pula dengan bawang untuk memberikan rasa gurih,

Anak-anak Bajo

Sejak lahir mereka telah dikenalkan pada air laut, tempat bermain mereka. Bayi-bayi ini akan dicelupkan oleh orang tua mereka, maka tak heran, kemampuan berenang mereka hanya bisa disaingi oleh ikan.

Saking bergantungnya pada air laut, acara ‘hang out’ sore mereka setelah memakai bedak dan mandi sore pun tetap bersampan keliling kampung, dan terkadang acara jatuh dari sampan kembali ke laut menjadi selingan yang menyenangkan.

Diatas ini adalah  video saat saya berkunjung ke suku Bajo di Wakatobi.

Buat kalian yang ingin menyaksikanlangsung keunikan orang-orang suku Bajo ini, tak ada salahnya mengunjungi perkampungan mereka, dan menikmati swami sebari bernaim-main dengan anak-anak Bajo.

 

4 Hari di Bali dan Lembongan

Bali ga ada habisnya… Lembongan pun begitu.

Ketika keluarga minta tolong direncakan liburannya di Bali selama 4 hari, dan isinya terdiri dari ibu-ibu, sepupu yang selalu mau mencoba hal baru, serta sepupu yang lebih suka bersantai-santai sambil update status, maka gw harus bisa merencakan sesuatu yang bikin mereka semua hepi.

Nyokap gw itu meskipun sudah lumayan berumur tapi semangat jalannya masih tinggi. Bahkan beberapa kali nggak pernah nolak kalau diajak snorkling. Eh, beliau sudah sampai ke Rote segala looh hehehe. Nah, pertimbangan kalau jalan-jalan bareng senior citizen gini, faktor kenyamanan dan keamanan juga harus dipertimbangkan.

Jadi meskipun mau seru-seruan bareng sepupu, para ibu-ibu juga harus tetep bisa ikutan.

oya, cek2 juga nih video selama liburan kemarin dari Gilbert

DAY 1

Surfing

Ke Bali kalau nggak surfing sayang banget yaaa. Maka selama gw surfing, salah seorang sepupu gw, Gilbert, menyewa surfboard dan berjuang setengah mati di section white water di pantai Padma yang memang diperuntukkan untuk belajar.

Ibu-ibu pada kemana? Oh, jangan khawatir, mereka dengan santainya menyesap jus segar di bawah pohon serta bersender manis pada bantal-bantal yang ada. Kalau bosan mereka iseng berjalan kali di sekitar pantai Padma yang selalu ramai. Ingatkan saja mereka untuk selalu membawa topi dan tidak kekurangan minum yaa.

surfing bali
Sempet-sempetin nyobain surfing kalau ke Bali
Relaxing after surf sesh at Padma
Leyeh-leyeh ala nyokap
Yang paling menyenangkan saat nongkrong di Padma itu, kamu bakal ketemu dengan semua temanmu tanpa janjian

DAY 2

Flowrider

Yang kesel nggak dapat ombak? Jangan kawatir, hari itu juga kita bisa meluncur ke daerah Dewi Sri untuk mencoba Flowrider.

Kalau belum pernah coba bagaimana? Jangan kawatir, mereka memiliki instruktur yang dengan sabar menjelaskan serta membantu kita untuk tetap bertahan di atas board, meski tak mudah untuk pertama kalinya. Tapi yang pasti FUN!

Beda banget sama surfing, worth to try!

Untuk yang belum pede melakukan flowrider dengan posisi berdiri, silakan melakukannya dengan posisi tiduran.. eh telungkup maksudnya hehehehe. Sepupu gw yang satu lagi si Irene, memutuskan untuk bersenang-senang dengan mengunakan bodyboard di kolam flowrider ini. Nggak kalah serunya!

Semantara para nyokap bisa bersantai di restaurannya yang cozy sembari kembali menyesap minuman-minuman dingin menyegarkan. Dijamin mereka tak akan bosan melihat anak-anaknya jungkir balik.

Irene nggak mau ketinggalan

Oya, penginapan di Bali saat musim liburan itu bisa luar biasa penuh. Dan kalau sedangn high season begini, harga pun ikut-ikutan high. Tapi jangan kawatir, waktunya untuk mencoba homestay. Keuntungan homestay itu banyak. Ketika kami memutuskan untuk menginap di Kubu Kusambi, kami tau ini adalah keputusan yang tepat.

  • kamu merasakan atmosphere Bali yang sebenarnya, dengan suara ayam dan burung-burung sebagai alarm pagimu.

 

 

  • Dog lover? ini dia  yang akan bikin kamu berasa di rumah. Disambut 7 ekor anjing yang ceria dan suka bermanja-manja bikin betah rasanya. 

  • Sarapan yang santai seakan di rumah sendiri. Begitu keluar kamar sarapan sudah tersaji di meja makan tempat kami berenam berkumpul. Ngobrol sembari  membuat perencanaan kegiatan menjadi hal favorit di pagi hari sembari memandangi kehijauan kebun Kubu Kusambi yang luas.

  • Kamar luas, anti desek-desekan. Apalagi kalau kamu bawa banyak barang
  • Kebun yang super luas… ssstt ternyata bisa bikin acara private juga loooh disini!

 

Alamat Kubu Kusambi

Jl. Taman Putri no. 04, Mumbul – Benoa.

Bali

contact : Gino 08123927527

DAY 3

Lembongan here we come!

Ok, jadi meskipun waktumu cukup sempit seperti kami, menyebrang ke Lembongan tetap bisa menjadi alternatif karena jarak tempuhnya yang tak terlalu jauh. Penyebrangan dari Sanur, dan ada baiknya kamu sudah booking jauh-jauh hari di saat musim liburan seperti ini. Gw sudah menghubungi bli Ware dari beberapa waktu lalu, maka tiket kami telah tersedia ketika kami sampai.

Canoing and Stund Up Paddle

Kegiatan pertama yang kami pilih adalah canoing. Lokasinya berada di daerah mangrove atau hutan bakau. Memang sesuai namanya, dareah ini masih oke banget bakaunya.

Langsung menuju LOA (Lembongan Ocean Adventure),  kamipun memilih canoe yang akan digunakan. Nyokap gimana? nyokap nggak mau ketinggalan dan memilih ikutan mendayung di canoe. Ternyata gw tau sekarang kenapa gw   nggak bisa diam. It’s in our blood.

Tapi bagi yang malas mendayung dan tetap ingin menikmati hutan bakau, banyak perahu yang dapat disewa dengan harga relatif murah.

Sunseting

Dosa besar namanya kalau ke pantai tapi nggak menikmati sunset. Salah satu lokasi sunset yang seru itu di Ware Ware, yang terletak di atas tebing. Ah… tak bosan rasanya menyaksikan matahari terbenam. Surfer-surfer hilir mudik menggotong papan surfing mereka karen memang didekatnya terdapat spot surfing ‘playground’. Anak-anak bermain pasir dan tamu-tamu resto yang lainnya pun mulai mengeluarkan smarphone atau kamera mereka untuk mengabadikan moment ini.

DAY 4

Snorkling

Masih di lokasi yang sama di area mangrove, snorkling disini memberikan jaminan mutu karang-karang yang sehat dan ikan yang sibuk berseliweran. Peserta kali ini nyokap gw (tuh kan nggak mau diem) dan sepupu gw Gilbert (kalau ini jangan ditanya, dia mau coba segala hal).

Snorkling Mangrove – Lembongan

Yang perlu diingat adalah:

  • Mangrove memiliki arus yang lumayan kuat apalagi kalau kebagian jam snorkling saat air surut. Pastikan kamu nggak terpisah dari teman-teman yang lain, dan nurut sama guide snorkling yang mendampingi yaa.
  • Jangan menginjak karang. Guide akan mengingatkan juga berkali-kali sebelum dan saat melakukan snorkling. Sayang kan karangnya harus jadi korban ketidakbecusanmu snorkling? untuk tips snorkling yang benar, klik disini
  • Yang nggak gape berenang jangan kawatir, mereka juga menyediakan live jacket.
  • Jangan lupa bawa kamera tahan air yaaaaa
Snorkling Mangrove – Lembongan

Where to stay

Kemarin saat musim ramai kami mendapatkan satu resort kecil manis yang berjarak hanya 100 meter dari pantai. Namanya D’Licks.

Jangan kecewa kalau nggak dapat resort di tepi pantai, karena Lembongan itu kecil dan anti macet. Bisa jalan kaki atau naik motor kalau mau kemana-mana

Lagian ada kolam renang juga di area resortnya, jadi masih bisa leyeh-leyeh mandi matahari kalau lagi males keluar-keluar.

D’Licks Villa

Wayan Ware 08123803321

 

 

Diserbu Ibu-Ibu di Selayar

Biasanya kalau trip ke daerah, semua berjalan biasa aja. Nggak ada tuh yang manggil-manggil minta foto apalagi nagih utang. Tapi trip ke Selayar kali ini luar biasa hebohnya.

Penyebabnya tak lain dan tak bukan karena di group kami kali ini keselip seorang artis sinetron. Menurut saya yang namanya artis sinetron itu adalah artis beneran.

Soalnya kehebohan yang ditimbulkan juga beneran.. susah ditangani. Subuh itu kami berkumpul di Soetta untuk menuju Makassar, tempat transit sebelum melanjutkan penerbangan ke bandara H. Aroeppala di Selayar. Tuuh, jadi kalau mau main-main ke Selayar dah mudah niih ada penerbangan sampai di pulaunya.

Waktu pertama kali dikenalin ke Andrew Andika (artis yang gabung di group kami), saya langsung membayangkannya beraksi di layar kaca (maklum ga pernah nonton sinetron jadi kurang hafal pemain-pemainnya). Kulit putih dan bibir merah meronanya sudah pasti jadi idola ibu-ibu nih.

Sepertinya trip kali ini akan menarik.

Selayar sendiri letaknya di selatan Tanjung Bira yang beken juga dengan pantai-pantai indah berpasir putihnya. Dan untuk penggemar mancing, Selayar bisa masuk hitungan nih dengan banyaknya spot mancing.

Benar saja, saat kami mendarat di Selayar, sambutan bunga langsung menerjang barisan terdepan dimana Andrew menjadi salah salah satunya. Setelah bunga, bermunculanlah ibu-ibu dengan samrtphone plus tongsis di tangan mulai menggapai-gapai Andrew. Sembari cekikikan malu-malu tapi senang, mereka berfoto bergantian sampai Andrew harus diselamatkan sedikit paksa agar perjalanan kami dapat berlanjut.

Ini baru permulaan. Setelah jamuan makan siang (tentunya seafood yang lezat!) diselingi foto-foto (lagi), kami semua menuju dermaga siap bertolak menuju spot diving pertama. Meskipun group kami berjumlah sekitar 14 orang, tapi pengantar yang terdiri dari teman-teman kantor dinas dan handai taulan berjumlah setengah dari seluruh isi dari kampung terdekat. Heboh.

Kembali tongsis-tongsis berjuluran disekitar Andrew.

Akhirnya berangkat. Lega rasanya.

Pic by Dewi Wilaisono
Pic by Dewi Wilaisono

Spot diving di Selayar yang keren benar-benar bisa menghapus semua kepenatan yang terkumpul selama perjalanan. Wall indah di pantai Pinang bisa jadi altenatif buat para pecinta diviung nih. Yang penasaran silakan tonton vlog gw di Wet Traveler di bawah ini.

Kelar diving, kami safety stop leyeh-leyeh di pantai tersebut,. Tadinya saya pikir kami akan tenang dan aman, ternyata dari bibir pantai terdenganr teriakan “ANDREW SINI DONG FOTO DULU” astagaahh.. Kopasus juga nggak ada apa-apannya nih hehehehe.

Berhubung kami masih leyeh-leyeh menggunakan wetsuit di laut, kami merasa aman (maksudnya Andrew merasa aman, apalah saya ikutan-ikiutan hahahahha..) TAPI RUPANYA SI MBAK GA SABARAN DAN MULAI MERELAKAN CELANANYA BASAH MASUK KE LAUT!

Dan sesi foto-foto pun mulai kembali hihihihi..

Begitu juga keesokan harinya saat kami mengunjungi Desa Tua Bitombang. Tadinya saya sudah berniat untuk curi-curi ngambil video saat Andrew dikerubuti ibu-ibu. Pastinya akan lucu banget untuk masuk di vlog.

Sayapun mempersiapkan kamera di tangan, siap menangkap moment itu. Tapi ketika moment itu datang : Andrew menikmati makan siangnya di saung, dan tiba-tiba dari belakang pipinya sontak dicubit gemas oleh salah seorang ibu. Saya benar-benar nggak tega melihat mukanya yang kesal.

Ya siapa coba yang nggak kesel kalau lagi makan tiba-tiba pipi ditarik-tarik. Kadang fans memang keterlaluan tapi malah menyalahkan si artis yang katanya sombong. Moment seperti ini memang harus tak bisa dinilai secara sekilas.

Artis juga manusia.

Saya urung menghidupkan video saya. Saya nggak melihat hal itu lucu. Batal. Maka kalau kalian lihat vlog selayar saya, Andrew emang ga terlalu diekspose, menghargai privasi dia juga.

Tapi secara keseluruhan trip ke Selayar ini berkesan banget! Dan yang pasti, saya bersyukur menjadi seorang blogger/vlogger dan bukan artis

The Wet Traveler (Pinneng and me) and our amazing friend Ibu Dewi WIlaisono

Kamandalu – Amazing Place to Stay in Ubud

Kamandalu during silent day

Bali memiliki sisi yang tak habis-habis untuk dieksplore, dan jika kamu mencari sesuatu yang berbeda dari keriuhan pantai Kuta maka menginap di Kamandalu resort Ubud bisa jadi pilihan yang menarik.

Penat dan lelah lansung hilang saat mobil kami memasuki gerbang Kamandalu. Suasana pedesaan Bali langsung terasa dengan terbentangnya pesawahan dengan hijau padi yang melambai tertiup angin.

Ruang lobby utama yang besar dan terbuka semakin memberikan perasaan lapang dan menyatu dengan alam. Tak lama barang-barang kami segera dibawa ke villa yang akan kami tempati selama beberapa hari ini.

 

Water everywhere

I love water, we love water.  Nama Kamandalu sendiri yang berasal dari bahasa sanskrit berarti wadah bagi air suci. Tak heran, kolam renang tak hanya satu di Kamandalu ini selain dua buah kolam untuk public, ada beberapa villa yang memiliki kolam sendiri dengan bentuk-bentuk yang unik

the main public pool at Kamandalu

 

villa with private pool

Village athmosphere

Suasana Kamandalu sendiri memang mengingatkan pada desa-desa tradisional di Ubud yang bersih dan teratur, dengan rumah-rumah gaya Bali yang memiliki gerbang kecil di masing-masing pintu masuknya. Sangat menyenangkan dan menenangkan.

Floating Breakfast

This is my fav!! Kebayang nggak kamu bisa mendapatkan gaya sarapan unik nan sexy di kolam villa masing-masing. Sarapan dengan menu sehat yang sangat menggoda perut serta jus-jus aneka warna benar-benar pasangan yang sesuai dengan keasrian Kamandalu. Get your appetite dan your tanned skin at the same time. 

floating breakfast

Rumah Yoga

Rumah Yoga di Kamandalu ini menjadi lokasi favorit untuk menghabiskan waktu di pagi hari sebelum sarapan. Guru yoga yang selalu tersedia siap memandu kita untuk melenturkan otot-otot yang kaku dan menurunkan tingkat stres yang mungkin kita alami sebelumnya.

Rumah dengan ke-empat dindingnya yang berupa jendela kaca yang dapat dibuka, memungkinkan udara segar dari hutan menyerbu masuk ke dalam. Cahaya matahari dapat dengan leluasa pula menyeruak diantara tirai penutup kaca.

The Rumah Yoga
amazing place for yoga

Nature around villas

Saya selalu menjadi fans setia suasana natural, dimanapun itu. Kamandalu menawarkan suasana alami  yang sangat beragam. Sebut saja sarapan di tengah-tengah sawah, atau coffee time dengan suasana bohemian di tengah-tengah rimbunnya pepohonan?

 

Place for healthy lifestyle

Liburan tak harus selalu berarti berat badan dan merangkak naik, karena Kamandalu memiliki beberapa menu seru sarapan sehat yang karena bentuk penyuguhannya yang seru, rasanya sayang untuk dimakan!

Outdoor activity

Ingin menjelajahi Ubud? Jangan kawatir, Kamandalu siap memandu dan menunjukkan tempat-tempat seru yang layak untuk menjadi objek foto dan seru.

morning time at Tegalalang

 

Kamandalu

 Jl. Hanoman, Ubud, Bali, Kabupaten Gianyar, Bali 80571, Indonesia
Phone +62 361 971590

 

 

 

Underwater photography and videography – capturing the beauty of underwater

diving lembata during survei

Underwater photography secara gamblang bisa diartikan mengambil gambar saat berada di bawah air. Umumnya dilakukan menggunakan scuba atau bisa juga dengan teknik snorkeling dan freedive.

Hal-hal yang menjadi objek underwater photography ini bisa sangat beragam. Dan hal ini berkaitan sangat erat dengan minat seorang penyelam. Maka kalau ditanya : spot diving mana yang paling bagus? Buat saya ini saja saja dengan bertanya : dimana ombak yang paling bagus untuk surfing?

Kedua pertanyaan diatas harus diperjelas lagi, diving untuk melihat apa dulu yang paling diminati? jenis ombak seperti apa yang disukai? Masing-masing sangat subjektif dan sangat berbeda bagi setiap orang. Oke, mari kita kembali ke underwater photography sesuai judul.

Nah, jenis-jenis underwater photography atau videography apa saja yang harus diketahui?

    1. Wide angle

Wide angle ini bisa dikatakan kondisi dan objek yang paling mudah dinikmati oleh mata umum dan diver pemula. Elemen wide angle pada umumnya adalah coral beraneka ragam (siapa yang tak suka melihat warna warni indah di bawah laut?) yang berada di slope (kondisi penyelaman pada tanah yang turun melandai) ataupun wall (konsidi penyelaman yang dilakukan pada sisi tebing tegak lurus)

    Selain coral berwarna warni, objek untuk underwater photography wide angle adalah biotal laut berukuran normalnya ikan yang kita kenal hingga berukuran lebih besar dari manusia. Beberapa lokasi favorit saya untuk melakukan penyelaman dan mengabil video wide angle adalah ALOR, RAJA AMPAT dan KOMODO
                  2. Macro
                  Nah, sangat kebalikan dari wide yang serba lebar dan luas, para photographer underwater biasanya juga menggemari objek-objek macro yang berupa renik-renik unik yang memiliki bentuk ajaib dan warna nan mempesona. Bagi para diver pemula dan orang awam, bentuk-bentuk aneh yang tertangkap kamera foto maupun video macro biasanya sangat tidak masuk akal, namun menarik. Sebut saja hewan-hewan seperti nudibranch, frogfish, berbagai jenis shrimo yang sangat berbeda dari yang kita tahu sebelumnya. Semua ini menjadi objek yang sangat menarik.
                  Namun untuk mencari mereka (para objek itu), tak semudah yang dikira. Bentuknya yang sangat kecil, bahkan seringkali lebih keciul dari kuku kita, serta bentuk dan warnanya yang menyerupai lingkungan hidupnya, membuat diver bisa setengah mati mengintip-intip coral atau lokasi yang menjadi rumahnya.
                  Bagi para fotografer yang telah terbiasa atau dive guide yang sering mencarikan objek foto/video tersebut, mereka akan mengetahui ‘rumah’nya dan bisa menemukan lebih mudah. Beberapa daerah yang beken dengan penyelaman macronya : Lembeh dan Seraya.
                  Cek-cek video dibawah ini untuk teknis dan pembahasan lebih jauh mengenai peralatan yang digunakan dalam menghasilkan foto atau video macro
                3. Wreck dive
                Bangkai kapal karam atau pesawat terbang bisa menjadi objek yang tak kalah menarik. Apalagi jika kita juga mengetahui sejarah dari bangkai tersebut. Pertanyaan-pertanyaan baisanya membanjiri benak saya saat melihat satu bangkai di bawah air. Apa yang dirasakan para awaknya ketika itu, Bagaimana gagahnya kapal atau pesawat itu saat masih berada di masa jayanya sebelum menjadi rumah bagi penghuni dasar laut. Semua itu sangat menarik.
pic by Dewi Wilaisono, loc : Tulamben, Bali
              Misalnya seperti bangkai kapal Sohie Rickmers yang terbaring di Sabang pada kedalaman 60 meter ini. Tonton video Wet Traveler ketika mengunjungi wreck cantik ini
              4. Cave dive
              Penyelaman di gua bawah laut juga membutuhkan keterampilan dan level tersendiri. Penting untuk menguasai navigasi agar tak tersasar di dalam goa, juga harus memiliki buoyancy yang mumpuni. Selain terdapat resiko terantuk langit-langit goa, buoyancy sempurna juga mencegah kita membuat sedimen lumpur berhamburan naik akibat kibasan fins yang kita kenakan.
              5. Scuba model
              Teman menyelam kita juga bisa berfungsi sebagai model utama atau pelengkap penderita sebagai pemanis atau pembanding objek utama. Elemen air pastinya jadi pembatas bagi model maupun fotografer untuk berkomunikasi. Disinilah dibutuhkan satu teknik komunikasi lain yang telah dibicarakan dan disetujui bersama sebelumnya.
              Biasanya saya menggunakan hand signal untuk berkomunikasi.  Fotografer bisa meminta saya untuk mendekat ke objek, atau hovering jauh diatas dengan posisi kaki yang diminta, apakah tegak lurus atau melintang.
              Lampun menjadi elemen pelengkap yang sebaiknnya dipakai juga untuk memberikan aksen menarik di foto.
clear mask and light

Jadi kalau ditanya : “titik penyelaman dimana yang paling bagus?”

saya bisa bertanya balik : “sukanya apa dulu nih?”

Surfing Indonesia : Rote Island during off season

Surfing during off season at Bo’a

For some surfers, Surfing Indonesia is quite well known. Bahkan untuk banyak surfer, Indonesia menjadi negara impian mereka untuk dijajal ombaknya.

Nah, bicara soal surfing Indonesia tak melulu Bali. Meskipun tak bisa dipungkiri, nama Bali merupakan yanng pertama kali muncul di tiap benar orang saat kita mengucapkan kata surfing. Sebut saja Nias, Mentawai, Aceh, Sumba, Sumbawa.. merupakan beberapa lokasi yang juga terkenal diantara para peselancar internasional.

Saya sendiri menyukai sebagian besar lokasi-lokasi surfing tersebut, dan beberapa diantaranya sudah pernah diceritakan juga di blog ini seperti di Nias yang ombaknya konsisten sexy-nya, juga Mentawai yang mendapat julukan ‘play ground’ dari para peselancar dunia karena beragamnya pilihan ombak disana.

Namun, nama besar spot-spot surfing di Indonesia tersebut membuat lokasi tersebut menjadi super ramai. Biasa disebut dengan high season. Karena itu beberapa kali saya mencoba untuk mendatangi lokasi-lokasi tersebut di saat ombak tak terlalu heboh bagusnya, namun tingkat kunjungan surfer juga tak sebanyak saat-saat high season.

Rote yang berada di selatan  pulau Timor  biasanya menjadi tujuan favorit saya untuk menikmati ombak sepi, namun dengan kualitas yang tak kalah saat musim ombak tiba. Pilihan lokasi pun cukup banyak, sebut saja pantai Bo’a yang terletak tak jauh dari desa Nemberala yang terletak di selatan. Bo’a memiliki kualitas ombak yang bagus dengan jarak yang tak terlalu jauh dari daratan.

Diluar semua itu, alam Rote selalu membuat saya kangen untuk selalu kembali dan kembali lagi. Apalagi sejak meningkatnya kemudahan transportasi untuk mencapai pulau di ujung selatan ini, rasanya tak ada alasan untuk tak melipir manja mengunjungi ombak dan teman-teman yang sudah bagaikan keluarga sendiri ini.

Back Bo’a, another surf spot in Rote

Berikut beberapa info yang mungkin berguna saat berkunjung ke Rote

what to do

  • surfing tentunya, di salah satu lefthander terbaik di Indonesia : besialu point.
  • Diving. Mereka juga mempunyai beberapa titik penyelaman yang menarik
  • Cruising along villages dan menemukan pemandangan unik khas Indonesia Timur yang seru.
  • Sunbathing di hamparan pasir putih bak memiliki pantai pribadi.

what to eat

Nemberala tidak memiliki warung makan layaknya lokasi wisata lain, biasanya para tamu disediakan makan 3 kali sehari di penginapan / resort masing-masing. Tapi ada satu local bakery yang wajib dicoba, karena mereka membuat donat kampung yang lezat.

where to stay

Anugerah surf and dive resort, sebagai satu-satunya resort dengan fasilitas dive operator di Nemberala

www.surfdiverote.com

How to get there

Fast boat

Kupang-Rote setiap senin, kamis, jumat, sabtu, minggu : 08:30 dan 14:00

Kupang-Rote setiap selasa dan rabu : 08:30

Pesawat

Wings Air Kupang-Rote: 15:10

Wings Air Rote-Kupang : 16:05

Cheers,

Gemala, the lazy surfer who love to ride sexy waves

 

5 reason to dive at Kota Kinabalu

Sutera Harbour, where you start to dive Kota Kinabalu

if you only have a short time to make an escape from your routin or just miss ocean so bad after climbing mt Kinabalu, diving Kota Kinabalu is the answer.

Bagi kebanyakan orang, nama Kinabalu memang identik dengan pendakian gunung Kibalu itu sendiri, tapi yang harus diketahui juga – ibu kota Sabah : Kota Kinabalu ternyata memiliki marine park yang sayang banget untuk dilewatkan. Lokasi ini cocok untuk diving saat berada di Kota Kinabalu.

Ini dia 5 alasan kenapa kamu harus mampir dan diving di Kota Kinabalu marine park :

  1. Only 15 minutes from Kota Kinabalu

Kota Kibabalu adalah kota pesisir yang cantik. Dibangun kembali pada tahun 1946 setelah sebelumnya kota yang bernama Jesselton ini dihancurkan pada saat PD II. Pada tahun 1967, nama Jesselton resmi berubah menjadi Kota Kinabalu.

Nah, tak jauh dari Kota Kinabalu, hanya berjarak sekitar 15 menit menggunakan speed boat yang bertolak dari Sutera Harbour, Tungku Abdul Rahman Marine Park yang sangat terjaga menjadi tempat melepas penat bagi warga Kota Kibalu.

Meskipun letaknya tak jauh dari kota, tapi marine park ini luar biasa bersih dan asri (membuat saya sedikit iri dengan keteraturannya). Tidak membuang banyak waktu, bahkan kunjungan ke Kota Kinabalu marine park ini bisa dilakukan dalam sehari. Makanya kita nyempetin untuk nyoba diving di Kota Kinabalu ini setelah pendakian Kinabalu dan surfing di Kudat, Tip of Borneo.

2. There are over than 20 dive spot

Bagi penggemar coral dan schooling pelagic maupun penggemar hewan-hewan macro, keduanya tak perlu kawatir karena semua bisa ditemui saat diving di Kota Kinabalu marine park.

Area taman nasional seluas 49 km persegi ini memliki banyak pulau-pulau yang dikelilingin dive spot antara lain :

  • Pulau Sapi
  • Pulau Manukan
  • Pulau Mamutik
  • Pulau Sulug
  • Pulau Gaya

3. Perfect sun bathing area

Selain diving Kota Kinabalu di  spot-spotnya yang bejibun, area santai-santai juga banyak. Beberapa resort bisa dilirik sebagai tempat bersantai yang seru seperti : Manukan island resort, Sutera Harbour resort, Gayana Eco resot dan Bunga Raya island resort.

Tips : jangan lupa sunblock! Nggak mau kan yang tadinya mau leyeh-leyeh jadi kebakar dan perih-perih.

4. Lots of activity

Selain diving dan leyeh-leyeh, bagi para penggemar snorkeling, Kota Kinabalu marine park atau disebut juga Tunku Abdul Rahman marine park ini memiliki spot snorkeling yang tenang karena memang area ini nggak terlalu berarus.

Selain itu penggemar kayak dan sailing juga bisa memanfaatkan area ini untuk hilir mudik. Saya sih kalau bisa dibonceng aja #hayatilelah berpiknik di tepi pantai. Barbeque dan beach sport juga bisa dilakukan disini. Tinggal pilih deh kegiatan yang paling cocok.

5. Sekali dayung, 2,3 hingga 4 pulau terlampaui

Harga transportasi hanya berkisar RM23 hingga RM25 berangkat dari Jesselton Point Ferry terminal, tergantung ke pulau mana tujuannya. Keberangkatan mulai dari pukul 7.30 hingga kloter terakhir pukul 16.30. Ferry berangkat setiap 15 hingga 20 menit sekali tergantung dari tujuannya. Nah kalau mau island hoping juga bisa, tinggal bayar RM33 – RM53 tergantung dari berapa pulau yang akan dijelajahi.

note

  • waktu kunjungan terbaik adalah dry season (maret-oktober), karena saat musim hujan visibility di bawah air juga akan terpengaruh dan cenderung keruh.

So, diving di Kota Kinabalu ini boleh juga masuk ke agenda leyeh-leyeh kalau lagi di sekitar Kota Kinabalu

More info

Sabah Parks

Lot 45 & 46, 1st – 5th Floor,

Block H, Signature Office

KK Times Square

Coastal Highway

88100 Kota Kinabalu

+60 88-523 500

+60 88-486 434

+60 88-486 435

+60 88-486 436

sabahparks@sabah.gov.my

sabahparks@gmail.com

sabahparks.org.my

Upacara Tulude

tulude_sangir3

Setahun sekali, di akhir bulan Januari, tepatnya pada tanggal 31 Januari, masyarakat Sangihe mengadakan upacara adat Tulude. Bahkan kepulangan saya yang seharusnya sebelum Tulude jadinya wajib diundur karena semua orang membicarakannya, dan meminta kami tinggal disana untuk menyaksikan upacara tersebut.

Masyarakat Sangihe atau Sangir sendiri masih sangat kuat adat istiadatnya. Meskipun sebagian besar dari mereka telah memeluk agama Kristen, mereka masih mempercayai yang disebut dengan ‘kekuatan jahat’. Sekilas cerita-cerita dari warga setempat, dulunya upacara Tulude ini dipenuhi dengan hal-hal mistis, namun dengan masuknya agama ditengah mereka, lambat laun hal mistis tersebut menghilang, berganti dengan upacara pengucapan rasa syukur serta suguhan tari-tarian rakyat.

Namun makna sebenarnya dari upaara Tulude ini tidak semudah itu diketahui. Percaya atau tidak, beberapa orang lokal yang saya temui tidak mengetahui arti sebenarnya dari upacara Tulude ini. Saking tua-nya perayaan ini, semua orang menganggap ini adalah sesuatu yang memang sudah harus dilakukan secara turun-temurun.

Selain mengungkapkan rasa syukur, ternyata ada makna lain dibalik upacara ini. Tulude atau Menulude yang berasal dari bahasa Sangihe, berarti menolak, tolak, atau mendorong. Secara luas arti ‘Tulude’ adalah menolak untuk terus berpatokan pada tahun yang lampau dan siap menyongsong tahun baru.

Sejarah singkat terbentuknya Sangihe yang diresmikan pada 24 Desember 1946 yang dulunya berbentuk kerajaan. Kerajaan pertama didirikan oleh Raja Gumansalangi pada tahun 1425. Karena belum ditemukan data yang akurat maka ditentukan 31 Januari 1425 sebagai hari lahir daerah Kepulauan Sangihe.

Pada masa awal beberapa abad lalu, pelaksanaan upacara adat Tulude dilaksanakan oleh para leluhur pada setiap tanggal 31 Desember, di mana tanggal ini merupakan penghujung dari tahun yang akan berakhir, sehingga sangat pas untuk melaksanakan upacara Tulude.

Ketika agama Kristen dan Islam masuk ke wilayah Sangihe dan Talaud pada abad ke-19, upacara adat Tulude ini telah diisi dengan muatan-muatan penginjilan dan tradisi kekafiran secara perlahan mulai terkikis. Bahkan, hari pelaksanaannya yang biasanya pada tanggal 31 Desember, oleh kesepakatan adat, dialihkan ke tanggal 31 Januari tahun berikutnya. Hal ini dilakukan, karena tanggal 31 Desember merupakan saat yang paling sibuk bagi umat Kristen di Sangihe dan Talaud. Sebab, seminggu sebelumnya telah disibukkan dengan acara ibadah malam Natal, lalu tanggal 31 Desember disibukkan dengan ibadah akhir tahun dan persiapan menyambut tahun baru. Akibat kepadatan dan keseibukan acara ibadah ini dan untuk menjaga kekhusukan ibadah gerejawi tidak terganggu dengan upacara adat Tulude, maka dialihkankan tanggal pelaksanaannya menjadi tanggal 31 Januari. Bahkan pada tahun 1995, oleh DPRD dan pemerintah kabupaten kepulauan Sangihe-Talaud, tanggal 31 Januari telah ditetapkan dengan Perda sebagai hari jadi Sangihe Talaud dengan inti acara upacara Tulude.

Ternyata upacara ini dihelat melewati beberapa tahapan. Dua minggu sebelum digelar, seorang tetua adat menyelam ke dalam lorong bawah laut yang berada di Gunung Banua Wuhu. Tetua adat ini membawa sepiring nasi putih dan emas yang dipersembahkan kepada Banua Wuhu yang bersemayam di lorong tersebut. Usai menggelar ritual penyelaman tersebut, dimulailah rangkaian perhelatan upcara Tulude yang diawali dengan pembuatan kue adat Tamo di rumah salah seorang tetua adat, sehari sebelum pelaksanaan.

Salah satu hal menarik dari upacara ini adalah ketika digelar ritual penyelaman ke Banua Wuhu. Gunung yang dikenal memiliki kepundan yang mengeluarkan gelembung pada kedalaman 8 meter dan memiliki suhu sekitar 37-38 derajat celcius. Di beberapa lubang keluar air panas yang sanggup membuat tangan telanjang bisa melepuh bila mencoba memasukkan ke dalamnya. Namun eksotisme perairan ini sebanding dengan resiko yang harus dihadapi, menjadikan ritual ini menjadi saat yang menarik sekaligus mendebarkan. Apakah ini titik diving Mahengetang?

sangir_dive
Mahengetang, the underwater volcano

Upacara Tulude dilaksanakan pada malam hari, dengan persiapan yang dimulai sejak sore hari. Lokasi diadakannya pun berpindah-pindah. Ramainya masyarakat yang hendak menyaksikan datang dari berbagai pejuru kampung. Rumah-rumah pun dihias sepanjang jalan sejak beberapa hari sebelumnya. Lipatan-lipatan daun kelapa kering terlihat bergantungan di kiri dan kanan jalan. Konon suasana semarak yang tercipta bahkan mengalahkan kemeriahan Natal dan Tahun Baru sekalipun.

Setiap kampung mengirim both perwakilannya yang berisi masakan khas tiap kampung, serunya makanan ini bebas dicicipi tanpa bayar sepeserpun. Mulai dari kue-kue tradisional hingga masakan laut. Tak ketinggalan sagu sebagai teman makan yang beda.

Para pejabat daerah telah menempati kursi yang disediakan diatas panggung. Setelah gelap, upacara pun dimulai. Diawali dengan ‘Sasake Pato’ yang melambangkan beberapa petinggi menaiki perahu, memimpin perahu yang meluncur dengan berani. Meluncur ditengah lautan yang terombang-ambing gelombang, dan harus mengemudikannya dengan baik, lurus tak berbelok, menuju pantai bahagia.

 

tulude_sangirDapat ditebak adegan berikutnya adalah turun dari perahu yang disertai sorak sorai, berjalan diiringi bunyi-bunyian tambur dan tagonggong. Divisualisasikan sang Pemimpin ibarat burung Rajawali, seorang pemberani tiada taranya. Tumitnya meratakan gunung, dapat menerangi lembah dan bukit, karena itu berjalanlah dengan penuh selamat tanpa hambatan yang menghalangi, kiranya tiba dengan damai sejahtera.

Puncak dari upacara Tulude adalah saat keluarnya kue dodol berhiaskan cabe, udang, dan aneka hiasan lainnya berbentuk kerucut yang mengingatkan saya akan kue tumpeng saat selametan. Kue inilah yang dinamakan Tamo. Saat itu saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya memakan dodol yang dikenal manis dengan udang dan cabe. Tapi rupanya hiasan-hiasan tersebut memang tidak dikonsumsi.

Diiringi dengan tarian dari tetua adat, serta ucapan-ucapan syukur perlahan-lahan Tamo dihantarkan ke hadapan para petinggi Sangihe. Semetara itu, potongan-potongan dodol juga dibagikan untuk para tamu, melambangkan kebersamaan, pastinya tanpa potongan udang dan cabe.

 

tulude_sangir_2Dan layaknya segala keramaian yang ada dimana-mana, pasti tidak akan jauh dari makanan. Segala masakan khas disajikan sebelum akhirnya kami menikmati suguhan tari-tarian yang dibawakan oleh masyarakat Sangihe malam itu.

All pics by Muljadi Pinneng Sulungbudi

Ular laut dan Belut laut – Serupa Tapi Tak Sama

_MPS6683
Belut laut. Pic by Pinneng

Ular termasuk salah satu binatang yang paling ditakuti. Bentuknya yang panjang dan licin sering memberikan rasa geli pada beberapa orang yang melihatnya. Bisa ular, yang merupakan salah satu senjata andalannya, juga dapat membuat orang enggan mendekatinnya. Jika di darat reputasi sang ular sudah demikian menakutkan, bagaimana dengan ular laut? 

Ular laut dan belut laut, adalah dua makhluk laut yang bentuknya paling menyerupai ular yang kita kenal di darat. Walaupun bentuk kedua warga laut ini mirip, sebenarnya ada satu perbedaan mendasar. Eel atau belut laut termasuk golongan ikan, sementara Sea Snake atau belut laut merupakan  hewan yang bernapas menggunakan paru-paru, serta berkembang biak dengan sistem ovoviviparous, atau telur disimpan ditubuh induk selama empat sampai sebelas bulan sampai saat siap untuk ditetaskan. Meskipun ular laut telah beradaptasi sedemikan rupa dengan kehidupan laut,  termasuk evolusi bentuk ekornya yang pipih untuk mebantunya bergerak cepat di dalam air,  mereka masih butuh untuk naik ke permukaan tiap beberapa waktu. Karena kebutuhan menarik napas inilah mereka sering ditemukan pada perairan dangkal.

_DSC8185

Terdapat 20-50 tipe yang berbeda untuk ular laut ini, dan rata-rata berukuran hingga 2 meter panjangnya. Bermotif belang-belang hitam putih atau berwarna terang, binatang ini mudah terlihat dan dikenali, dan walaupun mereka tidak agresif bahkan lebih sering menghindar jika didekati, keingintahuan akan benda mengapung atau bergerak di permukaan air cukup besar, dan biasanya mereka akan berenang mendekatinya.

Tapi jangan meremehkan prilakunya yang tidak agresif, karena pada saat musim bereproduksi, mereka bisa galak, defensif tepatnya, terutama saat merasa terganggu. Bisa yang mereka miliki tidak untuk membunuh, tapi lebih pada melumpuhkan. Gigitan ular laut bisa tidak disadari karena kecil, gejala awal yang umum adalah rasa tebal di lidah, haus berlebihan, sakit kepala, berkeringat diikuti muntah. Setelah lebih dari 30 menit gejala meningkat pada tidak bekerjanya otot otot tertentu. Yang membuat fatal apabila racun tersebut menyerang otot menelan dan pernafasan.

Sementara itu, belut laut merupakan ikan sejati dengan variasi ukuran mulai dari 5 centimeter (Monognathus ahlstromi) sampai 4 meter ( Slender giant moray). Mudah ditemukan pada perairan dangkal, tersembunyi dibalik pasir, lumpur atau diantara bebatuan. Tapi ada juga yang hidup diperairan dalam sampai dengan 4000m (wah, yellow submarine juga kalah). Kebanyakan merupakan nokturnal atau hewan yang aktif dimalam hari sehingga jarang terlihat, serta sering bergerombol membentuk koloni dan hidup bersama di dalam lubang.

Darah belut merupakan racun bagi manusia dan mamalia lainnya, namun dari proses memasak yang benar dapat menghancurkan protein beracunnya. Toksin yang berasal dari darah belut  digunakan oleh Charles Richet dalam penelitian yang membuatnya memenangkan Nobel dengan ditemukannya anti Anaphylaxis, yaitu reaksi alergi yang berlebihan seperti gatal, tekanan darah menurun, susah menelan yang bisa disebabkan oleh makanan, gigitan serangga atau konsumsi obat-obatan.

Dari fakta inilah maka terdapat hukum Yahudi yang melarang untuk mengkonsumsi belut . Menurut versi King James Perjanjian Lama, diperbolehkan untuk makan ikan sirip, tapi ikan seperti belut, yang tidak memiliki sirip, adalah terlarang dan tidak seharusnya dimakan.

Meskipun demikian, belut sangat popular sebagai makanan juga, baik yang dari air tawar maupun air asin, dan umum digunakan dalam masakan Jepang seperti Udadon dan Unajuu. Juga dalam masakan CIna yang berbeda penyajiannya. Di Hong Kong bahkan harganya mencapai 1000 HKD per kilogramnya. Di Korea selain popular sebagai makanan, juga dipandang sebagai sumber stamina bagi laki laki.

Sementara dalam posisi mereka pada rantai makanan di laut, ular laut lebih unggul daripada belut laut, mereka pintar dan kuat, sehingga menempatkan mereka pada posisi yang unggul. Tiga mangsa utamanya adalah ikan, belut dan telur. Tubuhnya yang kecil memudahkannya menyusup di sela-sela batu untuk bersembunyi, dan secepat kilat menyambar mangsanya yang lewat dengan racunnya untuk membuatnya tak berdaya. Predator utamanya adalah ikan-ikan pemburu yang lebih besar dan juga burung laut.

Rupaya para belut laut ini juga sering menjadi teman berburu yang baik bagi ikan roving coralgroupers, dengan cara mengundang yang unik, yaitu dengan menggelengkan kepalanya. Begitu undangan berburu diterima, tugas utama belut laut, terutama Moray eel adalah berburu diantara celah celah karang, yang susah diakses groupers. Inilah satu satunya bentuk kerjasama antar spesies yang diketahui dalam berburu ikan. Untuk belut laut sendiri mereka menggemari ikan-ikan, cumi-cumi, siput laut, gurita dan juga udang-udangan kecil.

Hal yang unik lain yang dapat ditemui pada belut laut adalah simbiosis mutualismenya dengan cleaning shrimp. Terlihat seakan hendak melakukan bunuh diri, udang pembersih itu memanjat ke mulut belut laut untuk menjemput ajalnya, tapi  yang terjadi sebenarnya tidaklah demikian. Bentuk hubungan yang saling menguntungkan ini terjalin saat dimana sang udang diijinkan untuk menbersihkan sang belut laut dari parasit yang sering kali menempel pada tubuh belut. Dengan menjadi sumber makanan pada udang tersebut, belut laut juga terbebas dari parasit yang mengikutinya.

Ular laut dan belut laut, mereka punya posisi yang berbeda dalam perannya di ekosistem laut, semua mahluk laut saling terkait dalam rantai makanan. Jika satu level berkurang atau bahkan hilang akan mengganggu ekosistem secara keseluruhan. Ular laut sebagai predator berperan untuk menjaga ekosistem dibawahnya, demikian juga belut laut. Penangkapan berlebih atau pengrusakan karang dapat mengancam keberadaan mereka.

Terlepas dari semua itu, mereka berduapun tetap menjadi objek yang menarik dan kerap dicari dalam acara penyelaman, dengan mimiknya yang unik, terkadang terlihat polos, dan seringkali tampak sangar. Nikmati mereka tanpa mengganggu, dan mereka pun tidak akan membahayakan kita.