Al in Alor part2 – bagian ke 2

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 2 1 2 1 8 4 8 7 8; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 65536 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:Cambria; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ascii-font-family:Cambria; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Cambria; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Cambria; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>

all pic. by Pinneng
Bagi yang belum baca Bagian 1

Berasa baca cerpen nggak sih 😀
Berasa masih pagi buta ketika Pak Dono ( panggilan sayang Donovan) membangunkan kami semua dengan gedoran mesranya yang stereo pada pintu kamar. Dengan mata masih kriyep-kriyep saya bersiap untuk diving trip hari ini. Kacamata hitam dan sunblock pasti dibawa, hmmmm.. kamera? Ah teman-teman banyak yang membawa kamera plus housing underwater plus lagi strobe, amaaann ( pikiran narsis bekerja)
Usai sarapan perjalanan dimulai, paling nggak membutuhkan waktu satu jam untuk sampai pada titik penyelaman yang pertama di hari kedua ini, Fish Bowl. Setelah pengecekan arus dilakukan, Dono menyuruh kami semua untuk bersiap siap. Entah kenapa saya selalu merasa tegang setiap persiapan dive yang pertama, dan takut kalau airnya dingin, maklumlah… gadis tropis J

Fish Bowl merupakan slope, dan pada hari ini sepertinya lumayan berarus. Saya merasa lumayan kesulitan dengan buoyancy kali ini, apa karena pakai wetsuit double? Yang pasti selama penyelaman kali ini, gaya nungging merupakan gaya andalan saya. Gimana nggak? Sekalinya saya memutarkan kepala, yang ada bawaannya mau naik ke permukaan terus, kan rugi….
Selain ngebut drifting, kami juga ketemu dengan Triggerfish yang demen kejar-kejaran dengan diver, tapi kalaupun kali ini ngejar, saya yakin, dengan bantuan turbo dari arus, kabur dipastikan bisa super cepat J
Penyelaman kedua, kami dibawa ke salah satu dari Top Five versi Dono, Kal’s Dream. Jeng jeeeng… yang saya tau disini arusnya heboooh. Daaan, diliat dari posisinya yang terbuka di tengah begini, darat terasa jauh serta ada arus yang terlihat menggelegak, saya benar-benar ngerasa sakit perut. Ketika semua bersiap siap turun pun, saya memutuskan untuk menambah pemberat satu kilo lagi. Nggak mau ambil resiko harus nungging-nungging di Cal’s Dream
Briefing menegangkan pun dimulai, singkat saja: bersiap merangkak kalau dibutuhkan… Glek.
Turunlah kami semua, dan… memang merangkak, mencari pegangan di celah karang langsung dibutuhkan. Memilah milih tempat berpegangan sambil menarik tubuh untuk maju, seru juga ternyata.. Ternyata pegangan itu tidak lama dibutuhkan, karena saat berikutnya arus menghilang dan kami dapat menikmatinya tanpa berjuang.
Coral padat berwarna warni, ikan ikan yang sibuk berseliweran kesana kemari, sampai berasa di pasar. Kami menyelam sampai di kedalaman 32m, tapi sayangnya ketika itu kami tidak bertemu dengan ikan tuna sepanjang 2 meter yang katanya sering terlihat disana. Hmmmm… alasan untuk kembali lagi rupanya.
Sebagai gantinya kami sempat melihat seekor penyu yang dengan santainya melayang-layang dari kedalaman, menuju hampir lurus kearah saya tapi kenapa dia harus berbelok? Padahal sudah ge-er mau disamperin penyu.
Saat naik untuk melakukan safety stop, kami harus berpegangan pada seutas tali karena dibagian tersebut arus cukup kencang. Kalau sampai lolos mengincar tali tersebut… wah, bakalan harus berjuang sekuat kaki mengayuh untuk kembali pada tali itu. Tapi teteeeup, wlaupun harus fokus berpengan pada tali saat safety stop, acara foto-foto tetap nggak ketinggalan.
Penyelaman ketiga pada hari kedua inipun dilakukan di titik yang menurut Dono, termasuk Top Five pilihan dia.  Mike’s Delight. Yang seru kami dibawa melewati dua batu besar pada kedalaman 20-an meter, daaaan kami juga melihat reef shark dari kejauhan, sepertinya black tip. Dia nggak ada niat untuk mendekati kami sama sekali, yak saya yakin kami nggak terlihat lezat baginya J Selain itu terlihat juga penyu dan dan Barracuda ketika kami menuju tempat yang lebih dangkal. Dan ketika waktunya untuk safety stop kami disuguhi schooling Surgeon Fish yang dapat didekati tanpa membuat mereka bubar.
Seakan moment berikutnya sudah diatur, seorang bapak nelayan setempat dengan kacamata kayunya ikut berenang dan menyelam bersama saya saat saya akan menyudahi sesi penyelaman terakhir hari ini. Wow!! Benar benar moment yang menyenangkan, sang bapak mau diajak berfoto bersama, ternyata jiwa narsis kami nyambung hahahahaha…
Hari berikutnya datang dengan cepat, istirahat semalam seakan tak cukup lama selama dive trip di Alor dengan segudang jadwal divingnya. Hari ini kami menuju daerah yang terletak lebih ke selatan, lebih terekspose arus dingin dari bawah. Jeng jeng… inilah ketakutan saya selama ini, air dingiiinnn!!!
Satu persatu turun, dan saya berusaha memperhatikan mimik muka mereka, seberapa kedinginankah mereka. Dan ketika tiba waktunya teman yang saya lupa asalnya, tapi yang pasti Negara Eropa yang harusnya sudah terbiasa dengan suhu dingin, mengerutkan muka karena kedinginan, saya benar-benar pasrah…
Berbekal wetsuit dobuble, akhirnya saya memberanikan diri turun di Slab City. Saat itu benar benar tenang, tidak berarus, dan suasana dibawah berasa di aquarium dengan beragam coral dan ikan ikan kecil berwarna warni berseliweran ceria. Damai sekali. Saking damainya, tidak perlu banyak bergerak mempertahankan posisi, sehingga air dingin makin terasa. Entah berapa kali saya pipis di dalam wetsuit ( sssst.. jangan bilang-bilang).
Hal menarik pertama yang kami temukan adalah Sea Apple, binatang laut yang masih saudara dengan timun laut, berbentuk bundar menggemaskan dengan tentakel di kepalanya yang berfungsi menangkap plankton dari air di sekelilingnya dan membawanya ke mulut yang terletak tepat di tengah atasnya.
Berikutnya kami melihat tiga ekor eagle ray bermain di kejauhan, saling mengitari dan segera menjauh begitu melihat grup kami.  Tidak lama kemudian, giliran Sea Snake yang kami temukan, Warnanya yang belang-belang hitam putih demikian mencolok, mustahil untuk melewatkannya. Meskipun bisa nya mematikan, tapi sea snake ini pemalu serta lumayan imut mukanya dengan ukuran mulutnya yang kecil. Tetap ya, nggak dianjurkan untuk mengganggunya.. kalau dia sensi kan gawat.
Semua memuji site dive ini, semua setuju kalau melakukan penyelaman disini rasanya seperti didalam aquarium versi raksasa. Saya setuju banget, diluar kulit keriput yang kedinginan tentunya..
Penyelaman selanjutnya adalah Cathedral. Dono benar benar serius dalam briefnya kali ini, semua harus berkumpul dulu, masuk pada saat yang bersamaan, kapal tidak bisa terlalu dekat dengan titik penyelaman yang sangat mepet tebing. Karena dari sinilah kami akan turun kedalam gua dengan kedalaman 18 meter, dan keluar lagi di pintu lain di 24 meter. Terdengar menyenangkan, dan inilah kami semua berkumpul sebelum bersama sama turun..
Saya sempat kaget karena ada pemberat yang tiba-tiba melayang. Belum habis rasa kaget itu, pemberat lain kembali jatuh, tepat disamping kepala saya. Wah gawat, seseorang kehilangan dua pemberatnya, dan benar saja, begitu saya melihat keatas, seseorang sedang  jungkir balik bersama Dono. Singkat cerita kami semua berhasil turun dengan selamat.
Langsung menuju mulut gua, cukup terang sehingga tidak perlu membawa senter, saya melihat seekor reef shark, seekor white tip, merasa terganggu tidur siangnya dengan kehadiran kami. Ia terlihat gelisah dan mondar mandir di pojok ‘kamar’nya mencari celah untuk kabur, yang cukup sulit rupanya dengan jumlah penyelam demikian banyak. Tapi begitu ia mendapatkan kesempatan itu, pada celah yang kecil sekalipun, dan celah itu terletak diatas kepala teman kami yang cuma bisa tercengang dengan kamera di tangan saat sang hiu melesat.
Di pintu keluar, rombongan sweet lips sudah menunggu dan mondar mandir, tapi segera bubar begitu kami keluar. Mengitari pintu gua menuju wall yang sangat indah, bergantungan elephant ears dimana mana, bisa ditebak sendirilah dari namanya bagaimana bentuknya. Tapi dari sekian banyak elephant ears, ada satu yang saya perhatikan, karena di yang satu terdapat Hermit crab berjalan pelan ke ujungnya. Saya penasaran apa yang terjadi kalau sang crab tetap berjalan, apakah ia akan terjun bebas ke dasar jurang dibawah saya? Akhirnya ia mencapai ujung elephant ear, dan…. Ia berbalik saudara-saudara!!! Tontonan selesai..
Sisa penyelaman hari itu tentu saja banyak kami habiskan pula dengan foto foto, di bawah air. Dengan jari telunjuk dan ibu jari disatukan, sementara schooling ikan ikan kecil diatas kepala kami menjadi background yang pas!
Tamat – untuk saat ini hehehehe…

2 Replies to “Al in Alor part2 – bagian ke 2”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *