AL in ALor part 2

 

 

bagian pertama
Dendam terbalaskan, saya kembali ke Alor membawa sejuta harapan untuk akhirnya bisa diving setelah kunjungan pertama gagal total nyebur, dan hanya bisa dipuaskan dengan celup celup badan. Dalam tiga hari kedepan, saya nggak mau setengah setengah menikmatinya, banzaaaiii!!!
Hari pertama kami cek dive di Sebanjar, saya sudah siap siap dengan reputasi dingin di Alor, mengenakan wetsuit atasan setebal 1mm dilapis wetsuit full 3mm, hmm Robocop is in da houseee 😀 Ternyata begitu nyebur, tidak separah yang saya duga. Sebanjar ini merupakan slope, dan ketika itu kita sedikit melakukan drift dive, ngikut arus biar nggak cape.
Tanpa disadari dive pertama saya ini juga merupakan dive terdalam saya, 40m!! Konon katanya, di Alor ini memang suka nggak kerasa kalau kita dive lumayan dalam, karena visibility nya yang super jauh, matahari tembus hingga jauh pula. Yang tadinya saya bergidik kalau dengar cerita orang dive dalem dalem, sekarang bisa dialami sendiriiii  😀 Pada dive pertama di hari pertama ini, saya menemukan coral berbentuk brokoli berwarna pink, namanya Spiky soft coral yang mengingatkan saya akan tumis brokoli bawang, tapi nge-punk
Dive kedua saya melepaskan satu lapisan wetsuit 1mm ( belagu mentang mentang nggak terlalu dingin ). It’s Babylon time!! Saya yakin nama Babylon ini didapatkan karena bentuknya yang mirip taman gantung di Babylon. Nggak salah wall yang ber-trap2 ini memang indah banget, seafan dengan mudah dapat ditemukan dimana mana.
Dengan berakhirnya sesi dive kedua ini, berarti waktu makan siang telah tiba, salah satu moment favorit saya setelah kedinginan dibawah. Belum habis makanan di piring, ratusan dolphin memanggil manggil dari kejauhan! Ratusan Dolphin bermain dalam beberapa kelompok, dan seakan akan tau sedang ditonton, beberapa yang centil melakukan loncatan loncatan, yang memang membuat kami teriak teriak gemas. Apalagi kalau moment tersebut telat tertangkap kamera, teriakannya semakin keras…. “Yaaaaaaahhhh!!!”
Dive berikutnya,Mirror Image, saya melakukan sedikit kegilaan, dive hanya dengan kostum bikini saja..
Kontan semua peserta yang lain bengong “Are you serious?” “Only wearing bikini?”pertanyaan pertanyaan yang buat ngeri juga sih, apalagi saya termasuk masih kurang berpengalaman soal selam menyelam ini. Tapi demi kepentingan dapat foto unik, hayolah! 😀
Brrrrr….. dingin juga yaa.. untung perasaan itu hanya bertahan beberapa saat saja, dan pada menit menit berikutnya saya sangat menikmati kulit yang terkekspose terkena belaian air laut, saya merasa ringan, bebas, dan pastinya sexy! Cuma yang harus diingat, hati hati kalau harus berpose dekat dengan karang atau tumbuhan laut, salah salah malah tersengat dan gatal gatal.
Slope berganti menjadi wall yang cantik di kanan saya, seliweran diantara diver yang berpakaian lengkap seru rasanya. Malahan ketika saya menyudahi sesi diving ketiga ini, setelah menaruh tabung dan teman temannya, saya kembali melakukan freedive, masih dengan bikini belaka, menyamperi fotografer yang sedang safety stop di 5 meter. Narsis yang tak terbendung J
Perjalanan kembali menuju teluk Kalabahi diisi dengan leyeh leyeh menambah tingkat kegelapan kulit diatas dek ( maaf ya pak kapten, selamat bertugas 😀 ) Rencananya malam ini kami akan melakukan nite dive. Okey.. heeei, apa kabar saya si bontot yang masih open water ini? Rupanya para dive master tidak merasa ada masalah dengan segala kemampuan yang saya kerahkan sekuat tenaga, OK! Saya boleh ikutan.
Begitu matahari terbenam, kami bersiap siap. Bohong kalau saya nggak merasa tegang, walaupun saya nggak punya masalah ruang sempit, tapi tetap menegangkan juga, selain saya takut kedinginan. Pertamina Pier, tempat yang dipilih untuk melakukan nite dive kali ini. Kami harus menyusur dari kedalaman 5m sampai ujung dermaga sekitar 17 m, dan kemudian naik kembali. Terdengar mudah. Ternyata di dalam, saya benar benar bingung dan buta arah. Hanya mengikuti lampu senter yang lain.
Alangkah banyaknya yang saya temui dibawah sana, mulai dari si pemalu Thorny seahorse, kemudian dikagetkan oleh Flounder Fish atau ikan sebelah yang saya kira pasir belaka karena seluruh badannya kecuali matanya tertutup pasir. Mendekati tiang tiang dermaga, semakin banyak yang bisa dilihat, Udang udang berwarna merah, yang berwarna kuning orange sedikit lebih lincah dan berlompatan, Big Cowry yang berbulu menggemaskan, serta nudie bongsor Pleurobranchus Forskali yang berukuran sekitar 10 cm, jauh lebih besar dari nudi yang saya kenal selama ini selalu lekat dengan kesan imut. Bergeser ke pasir, menemukan baby Crocodile Fish dan Pipe Fish. Uniknya Pipe Fish ini benar benar rombongan sekampung, dan semuanya tampil diatas batu. Saking banyaknya, beberapa tergeser jatuh tersenggol arus atau Pipe Fish lainnya.

Walaupun sisa udara masih ada, rasa dingin juga yang mengharuskan saya naik menyudahi hari ini, apalagi terbanyang coklat panas menanti diatas boat. Jadilah saya naik dengan badan yang mengigil nyaris tak terkendali tapi hati bahagia, dinaungi bintang langit Timur Indonesia,  hari pertama di Alor pun berakhir J

bersambung ke bagian ke-2

6 Replies to “AL in ALor part 2”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *