Aceh Addict

Selain surfing, Aceh memang dikenal sebagai surganya diving dari dulu. Tawaran ke Weh kali ini langsung saya sambar berhubung memang belum pernah kesana, lagipula.. kopi Aceh selalu memberikan rasa kangen, yang membuat saya selalu ingin kembali ke Aceh.

Rute Jakarta-Banda Aceh memakan waktu 3 jam, disambung dengan kapal cepat dari pelabuhan. Setelah sebelumnya menyempatkan diri berkunjung ke museum tsunami. Saya menemukan nama keluarga saya juga di sumur doa, yang walaupun saya tau merupakan nama yang umum di Aceh, tak ayal kembali mengingatkan saya pada almarhum ayah yang memang berasal dari Aceh.

Ternyata Weh, atau yang sering disebut juga dengan kota kabupatennya, Sabang, memang sesuai sekali dengan julukannya : Sabang, singkatan dari Santai Banget hehehehe.. Suasana disana benar benar mengendurkan urat saraf yang sehari hari digempur tekanan ibukota. Dan tetap warung kopilah tempat favorit untuk menghabiskan waktu, juga jika waktu sudah mepet sekalipun 😀

Sebelum penyelaman, saya berkesempatan mengitari pulau Rubiyah dengan perahu kayu yang bisa disewa. Bagi yang nggak bisa snorkling atau diving, rupanya ini merupakan pilihan yang tepat karena terdapat box kaca didasar perahnya, sehingga kita bebas melihat pemandangan bawah laut yang nggak terlalu dalam, hanya sekitar 5-6m. Yang menarik bagi saya justru terdapat banyak sekali fosil pohon yang terbawa waktu taunami tahun 2006 lalu, bercampur karang yang mulai pulih kembali.

Setelah ini baru giliran diving tiba, bersama salah satu dive center di pantai Gapang, Lumba Lumba Dive Center, saya pun segera memilih dive gear sesuai ukuran. Peraturan disini sangat ketat jadi pastikan Anda membawa diving license Anda.

Site dive yang dipilih adalah Batte Tokong, yang dalam bahasa Indonesia berarti Batu Kuat, disebut demikian karena posisinya yang nongol sendiri diluar gari pantai Pulau Rubiyah. Site ini mempunyai kontur berupa dinding sedalam 20 m yang kemudian melandai menjadi slope slope sampai kedalaman 60m. Setelah bersiap serta briefing singkat, tanpa banyak ba bi bu saya dan Danang beserta guide kami masing masing langsung terjun.

Benar benar titik penyelaman yang menarik, hampir tiap menolehkan kepala saya melihat Moray Eel di lubang lubang dindingnya, mengintip malu malu. Yang biru.. yang putih, semua ada. Sempet juga ngeliat antene lobster, yang waktu di intip ternyata dia berwarna biru!

Kalau lion fish jangan ditanya, geolan sexy nya terlihat dimana mana, cantik tapi jangan dipegang yaaa…belum lagi mata octopus yang terlihat kotak dengan gulungan badannya yang kenyal..

Saat menuju naik kembali kami berputar di area dangkal sambil sedikit bermain main dengan arus, ditemani si bibir sexy Sweets dan Parrot fish yang sibuk menggerogoti karang. Schooling  juga sering menutupi pandangan mata. Walaupun visibity cuma 6-7m tapi saya bisa menikmatinya 🙂

Kembali ke darat paling bener emang ngomongin soal makanan. Yang seru disini, warung nasi di pinggir jalannya super enak, memaksa saya untuk menahan diri nggak tambah tiga kali!! Hmmmm isi bumbu makanannya apa yaaa…

Sepertinya kalau musim angin barat di Aceh sudah lewat, saya wajib mengunjunginya lagi *wink!

4 Replies to “Aceh Addict”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *